Banjir Lumpuhkan SMPN 2 Suradadi Tegal, DPRD Sarankan Relokasi

Kamis 19-02-2026,07:35 WIB
Reporter : Yeri Noveli
Editor : Laela Nurchayati

SLAWI, diswayjateng.com – Air setinggi lebih dari satu meter sempat menguasai ruang-ruang kelas SMP Negeri 2 Suradadi, Kabupaten Tegal, Senin (16/2/2026). Beruntung, para siswa tengah menjalani masa libur sehingga tak ada korban jiwa maupun luka. Namun, yang tersisa setelah banjir surut bukan sekadar genangan, melainkan lumpur setebal 20 sentimeter, tumpukan sampah, hingga ular yang sempat bersarang di sudut-sudut kelas.

Kini air memang telah pergi. Tetapi aroma lumpur masih menyengat. Jejak bencana terlihat jelas di setiap ruang belajar, musala, hingga halaman sekolah. Petugas Damkar Kabupaten Tegal berjibaku menyedot lumpur, memastikan ruangan aman. Bahkan ular-ular yang sempat masuk ke kelas telah dievakuasi.

Plt Kepala SMPN 2 Suradadi, Hening Haryanti, tak kuasa menyembunyikan keprihatinannya. Banjir ini merupakan yang keempat dalam dua pekan terakhir, dan kali ini yang paling parah.

“Banjir kali ini bercampur lumpur, sampah, bahkan ular. Tembok pagar belakang sepanjang 30 meter dengan tinggi dua meter jebol, sehingga air mengalir deras tanpa kendali dan masuk ke seluruh ruangan,” kata Hening, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, lumpur merata di semua ruang kelas dan halaman sekolah. Ketebalannya mencapai 20 sentimeter. Untuk membersihkannya, pihak sekolah dibantu armada Damkar serta mesin diesel dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.

“Perkiraan kami, lumpur ini bisa hilang sekitar satu minggu, tapi harus dibantu penyedotan. Karena benar-benar tebal dan masuk ke semua ruangan, termasuk musala,” ujarnya.

Sekolah sebenarnya telah mengantisipasi banjir susulan dengan menyelamatkan aset dan dokumen penting. Namun tak semuanya tertolong. Buku-buku perpustakaan luluh lantak terendam lumpur. Peralatan band ikut rusak. Meski begitu, komputer berhasil diamankan.

“Ada beberapa dokumen yang terendam, tapi akan kami keringkan. Yang jelas, ini ujian berat bagi kami,” ucapnya.

Hening menyebut, SMPN 2 Suradadi memang sudah menjadi langganan banjir setiap tahun. Letaknya yang diapit aliran sungai membuat sekolah selalu terancam saat hujan deras mengguyur.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Winarto, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut posisi sekolah sangat rawan karena di belakang terdapat Sungai Cenang, sementara di depan ada aliran sungai kecil tersier.

“Kalau hujan dengan intensitas tinggi, dua sungai ini kerap meluap. Tahun ini yang paling parah karena pagar belakang sampai jebol,” tuturnya.

Untuk penanganan jangka pendek, pihaknya fokus pada pembersihan total agar kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa segera berjalan normal. Jika hingga batas akhir libur, Senin (23/2/2026), kondisi belum memungkinkan, opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan dipertimbangkan.

“Kami juga akan membuat tanggul sementara di belakang sekolah agar air tidak mudah masuk lagi,” kata Winarto.

Namun, solusi jangka panjang menjadi sorotan. Dua opsi mengemuka: relokasi atau pembangunan dua lantai. Jika tetap di lokasi saat ini, bangunan harus ditingkatkan agar ruang kelas dan dokumen penting berada di lantai atas.

Kategori :