“Kalau tidak relokasi, minimal harus dibangun dua lantai. Tapi kita juga kasihan, setiap banjir guru dan siswa harus membersihkan lumpur,” ujarnya.
Keprihatinan juga datang dari anggota DPRD Kabupaten Tegal Fraksi PKS, H. Bakhrun. Ia menilai banjir kali ini luar biasa dampaknya, tidak hanya merendam ribuan rumah di Pantura, tetapi juga puluhan fasilitas pendidikan.
“Ini yang terparah. Fasilitas pendidikan ikut terdampak serius, termasuk SMPN 2 Suradadi. Relokasi perlu dikaji serius agar tidak terus-menerus jadi korban banjir,” kata Bakhrun.
Bakhrun menambahkan, jika relokasi tidak memungkinkan, maka pembangunan bertingkat menjadi pilihan realistis. “Yang penting keselamatan dan kenyamanan siswa harus diutamakan,” tandasnya.
Sementara itu, suasana sekolah masih dipenuhi suara mesin penyedot lumpur. Dinding-dinding yang kecokelatan menjadi saksi betapa ganasnya air bercampur lumpur itu menerjang.
Namun di balik lumpur yang menutupi lantai, harapan belum ikut tenggelam. Para guru tetap berdiri, membersihkan ruang demi ruang. Mereka percaya, sekolah ini tak boleh kalah oleh banjir meski sudah empat kali dalam dua pekan dihantam air.
Kini, semua mata tertuju pada keputusan besar: bertahan dengan risiko banjir tahunan, atau melangkah menuju relokasi demi masa depan yang lebih aman bagi generasi muda Suradadi. (adv)