Duta Wisata Boyolali Ikut Tradisi Padusan di Umbul Tirtomarto
DIIKUTI : Tradisi Padusan menjelang Ramadan di Umbul Tirtomarto Kabupaten Boyolali diikuti Mas dan Mbak Duta Wisata 2025. Foto : Erna Yunus Basri--
BOYOLALI, diswayjateng.id - Hal menarik dari tradisi Padusan menjelang Ramadan di Umbul Tirtomarto, Kabupaten Boyolali adanya Mas dan Mbak Duta Wisata 2025, turut ambil bagian.
Mengenakan busana adat Jawa lengkap, keduanya mengikis arak-arakan dan disaksikan ribuan warga Boyolali lain.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya dari Kantor Kecamatan Banyudono menuju Umbul Tirtomarto Pengging.
Tradisi Padusan di Pengging, Kecamatan Banyudono ini berdasarkan sejarah telah berlangsung turun-temurun sejak era Wali Songo.
BACA JUGA: Kapolres Boyolali Cek SPPG: Ingatkan Manajemen Penyajian Makanan yang Higienis
BACA JUGA: Lansia 92 Tahun Tewas Tertabrak KA Banyubiru di Juwangi Boyolali
Momen setahun sekali ini dimaknai sebagai bentuk penyucian diri lahir dan batin sebelum menunaikan ibadah puasa.
Setibanya di lokasi, para peserta kirab disambut tarian tradisional sebelum memasuki prosesi inti berupa siraman.
Prosesi siraman dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Wiwis Triswi Handayani dengan menyiramkan air dari Umbul Pengging kepada pasangan Duta Wisata Mas dan Mbak Boyolali 2025.
"Tradisi padusan tahun ini digelar di Umbul Ngabean yang berada di kompleks Umbul Tirtomarto Pengging. Umbul tersebut merupakan salah satu petilasan yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Pakubuwana X dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," kata penanggung jawab Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan.
BACA JUGA: Merajut Kasih Lewat Pengobatan Gratis di Boyolali
Ia menjelaskan bahwa padusan merupakan warisan budaya yang sarat makna spiritual. Padusan sekaligus, simbol penyucian diri lahir dan batin.
"Dengan membersihkan diri atau mandi, diharapkan saat memasuki bulan suci Ramadan, badan, pikiran, dan batin berada dalam keadaan bersih," tuturnya.
Melalui penyelenggaraan tradisi padusan dan kirab budaya ini, diharapkan masyarakat dapat terus menjaga, mempertahankan, serta melestarikan tradisi budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman yang semakin modern.
Semenjak, Sekda Boyolali Wiwis Triswi Handayani menyampaikan bahwa tradisi padusan menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam menyambut Ramadan.
BACA JUGA: PT Jasamarga Solo Ngawi Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid di Sawahan Boyolali
BACA JUGA: Warga Desa Jeruk Selo Boyolali Lengserkan Sekdes Supriyanto, Buntut Pembuatan SPP Fiktif Senilai Rp168,5 juta
Menurutnya, mirab budaya dan padusan adalah bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk terus membangun daerah dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya sekaligus tradisi yang ada.
Ditempat yang sama, Mas Duta Wisata Boyolali 2025, Atsaal Surya Hima Pratama, mengatakan tradisi padusan menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Senada dengan itu, Mbak Duta Wisata Boyolali 2025, Anisa Risqi Aulya, menilai tradisi padusan adalah warisan budaya yang harus terus dijaga.
"Tradisi padusan ini merupakan wujud ikhtiar masyarakat Jawa untuk membersihkan diri, baik lahir maupun batin, agar diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: