“Kita tahu itu sebetulnya masuk dalam garis patahan sampai Sadeng, Ndelisari. Jadi tetap kita lakukan pemantauan, di samping kita selalu menitipkan kepada lurah setempat dan relawan yang ada di sana,” katanya.
Terkait kemungkinan relokasi, Endro menyebut langkah tersebut belum menjadi opsi utama selama kondisi masih terkendali.
“Selama itu masih dalam skala yang kita upayakan tidak ada penambahan pergerakan, sementara kita pastikan belum berpikir ke relokasi. Kecuali seperti Jangli kemarin, karena jumlah terdampaknya cukup banyak,” tegasnya.
Adapun untuk tiga rumah terdampak saat ini, warga masih bertahan di lokasi sambil menunggu perkembangan kajian teknis dari BPBD.
“Nanti kita lihat perkembangan. Kalau kerusakan semakin parah dan sudah tidak bisa dipertahankan, tentu harus relokasi, minimal ke pengungsian sementara,” ujarnya.
Berdasarkan data infografis BPBD Kota Semarang tahun 2026, bencana tanah longsor menjadi kejadian paling dominan secara kuantitas.
“Secara kuantitas, tanah longsor mendominasi jumlah paling banyak. Kemudian rumah roboh karena angin, kebakaran, baru banjir. Jadi tidak terbalik, bukan banjir yang paling banyak,” terang Endro.
Ia menambahkan, dampak hidrometeorologi berupa pergerakan tanah dan longsor menjadi perhatian serius karena tren peningkatannya cukup signifikan.