Longsor Talud Sungai di Banyumanik Semarang, Satu Rumah Rusak dan Kerugian Capai Rp200 Juta
TANAH LONGSOR: Longsor talud sungai terjadi di kawasan Banyumanik, Kota Semarang, saat hujan deras dini hari.-Dok. BPBD Kota Semarang-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id – Bencana tanah longsor kembali terjadi di Kota Semarang di tengah puncak musim hujan. Kali ini, longsor menimpa talud sungai di kawasan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, pada Rabu 4 Februari 2016 dini hari.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.15 WIB di sepanjang aliran sungai yang berada di Jalan Ngesrep Raya. Longsoran talud menyebabkan satu unit rumah milik warga bernama Wilda Nugraha terdampak setelah sebagian tanah di sekitar bangunan tergerus derasnya aliran air sungai.
Rumah tersebut dihuni satu kepala keluarga dengan total empat jiwa. Meski mengalami kerusakan cukup signifikan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menjelaskan bahwa longsoran memiliki dimensi cukup besar. Talud sungai yang ambrol tercatat memiliki panjang sekitar 30 meter, lebar lima meter, dan tinggi mencapai empat meter.
“Talud sungai tergerus aliran air akibat hujan deras sehingga menyebabkan longsor dan berdampak pada rumah warga di sekitarnya,” ujar Endro saat dikonfirmasi diswayjateng.id, Kamis 5 Februari 2026.
Menurutnya, talud yang tidak mampu menahan debit air tinggi saat hujan deras menjadi pemicu utama longsor, hingga menyeret tanah di sekitar bangunan warga. Akibat kejadian tersebut, kerugian materi diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta.
Usai kejadian, warga setempat segera melakukan koordinasi dengan ketua RT dan RW, serta melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kelurahan dan kecamatan. Tak lama berselang, petugas gabungan dari BPBD Kota Semarang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat kelurahan dan kecamatan turun langsung ke lokasi.
Petugas melakukan assessment awal, pendataan kerusakan, dokumentasi, serta menyalurkan bantuan kedaruratan kepada warga terdampak guna memastikan kondisi aman dan kebutuhan dasar terpenuhi.
Endro menambahkan, peristiwa longsor di Banyumanik ini menambah daftar panjang kejadian bencana serupa di Kota Semarang sejak awal tahun 2026. Memasuki puncak musim hujan, tercatat sudah 55 kejadian tanah longsor dan tanah amblas terjadi di berbagai wilayah kota.
“Sejak awal Januari hingga saat ini, kejadian tanah longsor dan tanah amblas tercatat sebanyak 55 kali. Ini menjadi jenis bencana dengan angka kejadian tertinggi di Kota Semarang,” jelasnya.
Wilayah Semarang bagian atas menjadi kawasan yang paling sering terdampak. Kondisi geografis berupa perbukitan, minimnya lahan resapan air, serta berkurangnya vegetasi hijau dinilai memperbesar risiko terjadinya longsor saat hujan intensitas tinggi.
Lebih lanjut Endro, tengah menyiapkan langkah mitigasi jangka menengah dengan merencanakan pembangunan embung atau kolam retensi di wilayah yang memiliki tingkat resapan air rendah.
“Rencananya pemerintah kota akan membuat embung-embung di wilayah yang kurang resapan untuk mengurangi risiko tanah longsor,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
