Sulit Air dan Padi Gabug, Puluhan Hektare Sawah di Bumiayu Brebes Puso

Sulit Air dan Padi Gabug, Puluhan Hektare Sawah di Bumiayu Brebes Puso

Salah satu lahan pertanian di wilayah Desa Kalinusu yang mengalami gagal panen akibat bulir tanaman padi tidak berisi.-Teguh Supriyanto -Radar Brebes

BUMIAYU, DISWAYJATENG - Tanaman padi yang sedianya hendak dipanen para petani di Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu mengalami kegagalan atau puso.

Hal ini disebabkan, tanaman padi yang semula tumbuh dengan normal, akan tetapi saat memasuki pembuahan diketahui tidak berisi.

Masturo, pengurus Poktan setempat menyampaikan, sedikitnya 30 hektare lahan sawah padi di wilayah Blok Kaliberung mengalami puso. Hal ini setelah debit aliran Sungai Kaliberung, semakin menyusut.

BACA JUGA:Cerita 3 Sendang di Bumiayu Tak Pernah Kering, Jadi Sumber Air Andalan di Musim Kemarau

"Kondisi tanaman berusia sekitar dua bulan, sedianya sudah mulai berbuah. Tapi ternyata bulir tidak berisi," ungkap Masturo, Selasa (20/6).

Dikatakan Masturo, ada panen sebelum petani juga sudah mengalami penurunan produksi gabah karena terkendala pengairan. Dimana untuk seperempat hektare sawah, 20 karung gabah yang setiap karung masing-masing 30 kilogram.

"Itu belum termasuk gabah gabug (tidak berisi). Padahal dalam kondisi pengairan normal, mampu menghasilkan 40 kilogram gabah," terangnya.

BACA JUGA:Empat Kecamatan di Kabupaten Tegal Rawan Kekeringan, Warga Diminta Waspada

Kondisi normal tersebut, lanjut dia, saat lahan pertanian di wilayah Desa Kalinusu mendapat suplai air dari bendung di aliran Sungai Keruh. Namun semenjak lama, bendung tersebut mengalami kerusakan dan tidak kunjung mendapatkan perbaikan.

"Kondisi ini jelas merugikan para petani, sebab tidak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan mulai sejak mengolah lahan pengadaan bibit, pupuk, obat-obatan hingga upah tenaga," keluhnya.

Sementara Sugiarto, Perangkat Desa Kalinusu menyampaikan, di wilayahnya terdapat 400 hektare lahan pertanian yang sebelumnya mengandalkan suplai pengairan dari Bendung Notog Sungai Keruh.

Namun semenjak mengalami kerusakan, banyak diantaranya melakukan alih tanam hingga membiarkan lahannya tanpa diolah.

"Adapun 30 hektare lahan yang mengalami puso ini, adalah lahan yang berada disekitar aliran Sungai Kaliberung," jelas Sugiarto.

Sebelumnya, para petani mengandalkan mesin pompa untuk menyedot air dari aliran Kaliberung. Namun karena banyaknya mesin yang digunakan, serta terhentinya curah hujan maka debit air mengecil hingga akhirnya tidak dapat lagi dipompa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: