“Untuk merealisasikan jalan baru, kendalanya pada kebutuhan anggaran yang besar, terutama untuk pengadaan lahan dan pelaksanaan konstruksi,” jelasnya.
Selama ini, penanganan lebih banyak berupa perbaikan berkala di titik kerusakan. Cara itu dinilai lebih murah, meski berisiko kerusakan serupa terulang.
“Kami berharap tidak terjadi longsor besar, karena jalur ini sangat vital bagi mobilitas warga dan pariwisata menuju Guci,” tegas Jeni, sapaan akrab politikus muda Partai Golkar ini.
Akibat amblesnya jalan, antrean kendaraan mengular panjang. Pengendara harus bergantian melintas satu per satu di jalur yang tersisa. Situasi ini membuat perjalanan tersendat, terutama pada jam berangkat kerja dan sekolah.
Sejumlah warga mengaku aktivitas mereka terganggu. Karyawan kantor, pekerja pabrik, pedagang, hingga anak sekolah harus rela antre dan berangkat lebih pagi agar tidak terlambat.
DPUPR Kabupaten Tegal telah melakukan penanganan darurat dengan menguruk bagian jalan yang ambles agar tetap bisa dilalui. Rekayasa lalu lintas juga dilakukan bekerja sama dengan Polres dan Dinas Perhubungan guna mengatur arus kendaraan.
Namun dengan retakan yang terus melebar, kekhawatiran warga masih tinggi. Apalagi jalur Clirit merupakan akses utama menuju kawasan wisata Guci yang setiap hari dilalui ratusan kendaraan. Jika pergerakan tanah tak segera berhenti, bukan tak mungkin jalur vital ini benar-benar terputus.