Tanggul Sungai Gung Nyaris Jebol, Empat Desa di Tegal Terancam Diterjang Banjir
TANGGUL BAMBU - Sejumlah warga saat membuat tanggul sederhana dengan menggunakan bambu dan karung berisi tanah untuk menahan Sungai Gung jebol, di Desa Demangaran, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Kamis (12/2/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Ancaman banjir membayangi ratusan rumah di empat desa di Kabupaten Tegal. Bantaran Sungai Gung yang berada di Desa Demangaran, Kecamatan Dukuhturi, dilaporkan nyaris jebol setelah terkikis derasnya arus sungai, Selasa (10/2/2026) malam.
Titik longsor berada di aliran Sungai Ketiwon yang merupakan aliran dari Sungai Gung. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tanah penahan tebing ambrol di dua titik dengan ukuran cukup panjang.
Warga Perumahan Eka Bahari Blok B2 Desa Karanganyar, Kecamatan Dukuhturi, Ari Triono menuturkan, longsor terjadi saat debit sungai melonjak tajam akibat hujan deras yang mengguyur wilayah hulu hingga hilir.
“Ada dua titik yang longsor. Titik pertama lebarnya sekitar 4 meter dengan panjang 37 meter. Titik kedua lebarnya 2,5 meter dan panjang 25 meter. Sekarang bantaran cuma tersisa kurang lebih 1 meter. Kalau sampai jebol, dampaknya bisa ke mana-mana,” ujar Ari saat ditemui, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, meski jarak bantaran sungai dengan permukiman warga sekitar 900 meter, rasa waswas tetap menghantui. Terlebih, Sungai Gung dikenal sebagai sungai terbesar di Kabupaten Tegal dengan debit air tinggi saat musim hujan.
“Kalau debitnya tinggi seperti kemarin, arusnya deras sekali. Kami khawatir kalau tanggul benar-benar putus, ratusan rumah bisa terendam,” ujarnya.
Ari memperkirakan sedikitnya enam kompleks perumahan berpotensi terdampak. Yakni perumahan Eka Bahari, Vero Permai, Griya Santika, Kanayya Land, Mutiara Dhika dan Griya Mejasem Baru 3. Keenam perumahan ini berlokasi di Desa Pacul (Kecamatan Talang), Desa Demangaran dan Desa Karanganyar (Kecamatan Dukuhturi), serta Desa Mejasem Barat (Kecamatan Kramat).
“Ini bukan cuma satu desa. Kalau sampai jebol, efeknya bisa ke mana-mana. Kami berharap ada penanganan serius,” tegasnya.
Saat ini, warga bersama pemerintah desa setempat melakukan penanganan darurat secara swadaya. Mereka membuat bronjong manual dari bambu, kemudian diurug menggunakan tanah sawah untuk memperkuat tebing yang terkikis.
“Ini sifatnya darurat. Kami pakai bambu dan tanah seadanya. Tapi tentu ini tidak cukup kalau debit kembali tinggi,” imbuh Ari.
Ia berharap pemerintah segera membangun tanggul permanen di sepanjang bantaran Sungai Gung agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
“Kami minta dibangun tanggul permanen. Jangan tambal sulam. Sungai ini besar, jadi harus ada penguatan yang serius,” tandasnya.
Sorotan juga datang dari anggota DPRD Kabupaten Tegal, H. Bakhrun, yang meminta pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: