Namun selama Desember hingga Januari, aktivitas melaut dipastikan sangat terbatas. Cuaca ekstrem nelayan Batang tidak hanya berdampak pada aktivitas di laut, tetapi juga memukul keras ekonomi keluarga nelayan.
Teguh menegaskan bahwa nelayan tidak memiliki sumber penghasilan tetap.
“Kalau tidak berangkat dan tidak dapat ikan, otomatis tidak ada penghasilan,” katanya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai musim paceklik, yakni masa ketika produktivitas nelayan berada di titik paling rendah. Musim paceklik terjadi bukan karena nelayan enggan bekerja, melainkan karena faktor alam yang membatasi ruang gerak mereka.
BACA JUGA:Cuaca Ekstrem Hentikan Nelayan Melaut, Pemkot Semarang Siapkan Solusi Budidaya Air Tawar
BACA JUGA:Gelombang Tinggi Hambat Nelayan Tambakharjo Semarang, Sebagian Pilih Utang Sebagai Penyangga Hidup
“Keterbatasan aktivitas karena cuaca ekstrem ini yang membuat nelayan sulit bertahan,” ujarnya.
Di Kabupaten Batang sendiri, jumlah nelayan yang tercatat mencapai 10.145 orang. Ribuan nelayan tersebut tersebar di enam Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
TPI tersebut meliputi TPI Klidang Lor 1, Klidang Lor 2, TPI Roban Barat, TPI Roban Timur, TPI Celong, dan TPI Seklayu.
Dari jumlah itu, nelayan Batang tergabung dalam 18 kelompok rukun nelayan. Mayoritas kelompok nelayan berada di wilayah Kecamatan Batang sebagai sentra aktivitas perikanan.
Meski sebagian besar nelayan memilih tidak melaut, tidak semuanya benar-benar berhenti. Teguh mengakui masih ada beberapa kapal yang tetap berangkat ke laut.
“Biasanya karena sudah terlanjur isi perbekalan dan solar,” ungkapnya.
Selain itu, hingga saat ini Syahbandar Perikanan belum menghentikan penerbitan surat izin berlayar. Artinya, secara administratif masih ada peluang bagi kapal untuk melaut meski cuaca kurang bersahabat.
BACA JUGA:BMKG Peringatkan Gelombang hingga 2,5 Meter di Pantura Jateng, Nelayan Diminta Waspada
BACA JUGA:Ombak 6 Meter Bikin Nelayan Tambak Lorok Menepi, Penghasilan Tertekan Sejak Musim Baratan
Namun kondisi ini menimbulkan dilema besar bagi nelayan. Di satu sisi, keselamatan jiwa terancam oleh gelombang dan angin kencang.