Dialog Kebudayaan DKD-KT, Cegah Kenakalan Remaja dengan Permainan dan Olaharaga Tradisional
DIALOG – Seumlah narasumber menyampaikan materi dalan kegiatan yang dikemas dengan Malam Ilir-ilir di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi.--
TEGAL, diswayjateng.com - Dialog rutin bulanan Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Tegal (DKD-KT) Kembali digelar. Kegiatan yang biasanya diadakan di Gedung Rakyat, kali ini DKD-KT turun ke desa. Yakni di Desa Lawatan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.
Malam itu, Jumat (24/4), Gedung Badminton Lawatan dikunjungi ratusan orang. Mereka hadir ingin melihat kegiatan Dialog Kebudayaan yang dikemas dengan Malam Ilir-ilir. Sebelum dimulai, sejumlah seniman dan budayawan, guru, serta masyarakat menyaksikan penampilan energik dari Angklung Larasworo.
Dalam kesempatan itu, hadir Ketua DKD-KT, Wakil Ketua Bapemperda Prov Jawa Tengah, Ketua KORMI Kabupaten Tegal, Pengelola Pasar Tradisional Slumpring, Pegiat Pembelajaran Luar Ruang, Camat Dukuhturi, Kapolsek Dukuhturi, Danramil, Kades Lawatan, dan sejumlah pengurus DKD-KT.
Mengawali dialog, Pri Jakaria, pegiatan Pembelajaran Luar Ruang yang memandu acara menyampaikan bahwa salah satu cara solutif untuk mengubah perilaku "nakal" adalah dengan mengganti aktivitas atau kebiasaan yang baik dan menyenangkan.
Dia pun menanyakan kepada sejumlah narasumber tentang permaianan dan olahraga tradisional di Kabupaten Tegal. ”Jika memang permaianan tradisional ini bisa menjadi salah satu langkah solusi mencegah kenakalan remaja, sebenarnya apa saja bentuk-bentuk permaianan tradisonal,” ungkapnya bertanya kepada narasumber.
Dalam kesempatan itu, Abdul Khayi, Pengelola Pasar Sumpring menjelaskan bahwa permainan tradisional itu ada banyak. Selain murah meriah, dengan permainan ini akan banyak anak-anak menjadi pribadi yang baik. Sebab, dalam permainan pasti ada makna yang terkandung.
”Permainan tradisional itu ada egrang, gobak sodor, dan lainnya. Di Pasar Sumpring, kami menyediakan permainan yang bahannya terbuat dari bambu. Dan itu sangat murah,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu munculnya kenakalan itu tidak lepas dari yang namanya gudget. Jika permainan ini digalakkan, kecanduan gudget pun akan berkurang. Kemudian anak-anak akan bermain dengan riang gembira.
”Permainan dan olahraga tradisional ini menjadi salah satunya Langkah solutif untuk mencegah kenakalan remaja. Apalagi jika dilakukan sampai ke tingkat-tingkat desa dan sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Tegal Abadi Pitoyo menambahkan, permainan tradisional dan olahraga tradisional di Kabupaten Tegal memang belum sempat dilombakan. Namun, pihaknya sering mengikuti kegiatan yang diadakan di provinsi.
”Kalau di KORMI, pertandingan itu namanya festival. Ada banyak permainan tradisional, meskipun cara bermainnya biasanya berbeda-beda. Mungkin akan lebih baik jika dibuat semacam SOP agar serempak,” ungkapnya.
Ketua DKD-KT Ki Haryo Enthus Susmono dalam kesempatan itu mengajak kepada seluruh stakeholder untuk menghidupkan kembali permainan dan olahraga tradisional. Akan lebih baik jika diadakan festival atau semacam pertandingan estafet yang dimulai dari kecamatan.
”Jika ada festival di Kabupaten Tegal yang dimulai dari kecamatan, baik antar pelajar maupun antar desa, pasti akan sangat bermanfaat. Kamid ari DKD-KT tahun kemarin sudah mengadakan di tingkat kabupaten. Tahun ini rencana di bulan Agustus. Mudah-mudahan tahun deapan, dengan semua pihak, polres, KORMI dan lainnya biasa diadakan estafet,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: