BATANG, diswayjateng.com - Cuaca ekstrem nelayan Batang membuat sebagian besar nelayan, baik skala kecil maupun menengah, memilih puasa melaut demi menghindari risiko kecelakaan di laut.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, menyebut kondisi ini sebagai siklus tahunan yang selalu datang bersamaan dengan musim baratan.
“Bulan Desember, Januari, Februari itu memang puncaknya musim penghujan, curah hujan tinggi, ombak besar, dan angin kencang,” kata Teguh saat ditemui, Rabu 14 Januari 2026.
Menurut Teguh, dalam kondisi laut yang tidak bersahabat, keselamatan nelayan menjadi pertimbangan utama.
BACA JUGA: Pecahkan Rekor, AKBP Veronica jadi Polwan Pertama yang Jabat Kapolres Batang
BACA JUGA: Dampak Cut Off UHC Batang, BPJS Pasien Kronis Nonaktif saat Transfusi, Ini Respon Bupati
Ia menyebut banyak nelayan Batang saat ini memilih mengisi waktu dengan memperbaiki jaring, kapal, dan perlengkapan melaut lainnya.
“Sekarang ini memang banyak yang tidak melaut, jadi mereka manfaatkan waktu untuk perbaikan,” ujarnya.
Cuaca ekstrem nelayan Batang disebut sudah memasuki fase puncak dalam beberapa hari terakhir. Dari bibir pantai, ombak tinggi sudah tampak jelas tanpa perlu alat ukur khusus.
“Beberapa hari ini benar-benar puncaknya, dari pantai saja kelihatan ombaknya besar,” tutur Teguh.
BACA JUGA: AKBP Edi Rahmat Mulyana Resmikan MMC, Warisan untuk Polres Batang
BACA JUGA: Isu THR Picu Demo PT Yamani Asia Pacific, Disnakertrans Batang Sebut Ada Prosedur Dilanggar
Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih beristirahat sementara demi menghindari risiko fatal di tengah laut.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, musim baratan biasanya berlangsung hingga Februari.
“Biasanya Februari sudah mulai reda, dan Maret itu sudah selesai,” jelas Teguh.