Sakura Wakili Ibu ke Tanah Suci, Kisah Jemaah Termuda Semarang Bikin Haru

Sakura Wakili Ibu ke Tanah Suci, Kisah Jemaah Termuda Semarang Bikin Haru

Sakura Nadifa Larasati (16) merupakaan jemaah calon haji termuda asal Kota Semarang berangkat bersama sang ayah Heri Setiawaan di Islamic Center, Kota Semarang-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com - Diujung gerbang Islamic Center Manyaran, Kota Semarang, tangis haru Sakura Nadifa Larasati (16) pecah saat berpamitan dengan keluarganya sebelum melangkahkan kaki menuju bus untuk berangkat ke Asrama Haji Donohudan.  

Sakura merupakan jemaah calon haji termuda Kota Semarang 2026, terus mengusap air mata yang mengalir saat momen perpisahan dengan keluarganya berlangsung. Pelukan hangat dengan sang kakak dilakukan sebelum langkahnya menuju Tanah Suci dilanjutkan.

Perjalanan haji Sakura dilakukan bukan tanpa alasan. Keberangkatannya merupakan bentuk pelimpahan dari sang ibu yang telah meninggal dunia pada tahun 2020.

Seharusnya, ibadah haji itu dijadwalkan dilaksanakan pada tahun 2021. Namun karena berbagai kondisi, keberangkatan tersebut baru dapat direalisasikan pada tahun 2026.

“Saya berangkat haji menggantikan ibu saya yang sudah meninggal, harusnya dijadwalkan berangkat pada 2021 namun baru bisa pada tahun ini," ujar Sakura dengan nada lirih kepada Diswayjateng.id, Selasa 28 April 2026 sore.

Ucapan itu disampaikan dengan nada haru, seolah seluruh kenangan bersama sang ibu kembali dihadirkan dalam momen tersebut.

Keputusan bahwa Sakura yang akan berangkat haji telah ditentukan melalui kesepakatan keluarga. Hal ini dijelaskan langsung oleh ayahnya, Hari Setiawan.

Dalam penuturannya, dijelaskan bahwa pelimpahan keberangkatan memang dilakukan setelah sang ibu wafat. Dari beberapa anak, Sakura yang merupakan anak ketiga akhirnya dipilih untuk menggantikan.

“Ya, kesepakatan saja. Menggantikan ibu,” ujar Hari Setiawan.

Pilihan tersebut tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui diskusi keluarga. Kakak-kakaknya disebut telah menyetujui keputusan tersebut.

Dalam perjalanan spiritual ini, Sakura tidak diberangkatkan sendiri. Ia didampingi oleh sang ayah, Hari Setiawan, yang turut menjalankan ibadah haji.

Kebersamaan ayah dan anak ini menjadi simbol kekuatan keluarga dalam menghadapi kehilangan sekaligus menjalankan kewajiban agama.

Hari Setiawan, yang berasal dari Sendang Mulyo, mengungkapkan bahwa persiapan khusus tidak terlalu dilakukan.

“Persiapan? Ya enggak ada persiapan,” katanya singkat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: