Di tengah kesibukannya sebagai guru, Hemi pun dituntut mampu membagi waktu. Setelah istirahat sejenak sepulang dari mengajar, sampai menjelang Maghrib, ia habiskan waktunya untuk mengejar kekurangan tersebut. Ia pun mengaku sangat terbantu dengan libur semester genap selama tiga minggu (21 Juni - 11 Juli 2026).
BACA JUGA:Grobogan Dilanda Kekeringan, BPBD Setempat Sediakan Air Bersih Sebanyak 120 Tangki
BACA JUGA:Bangun Kembali Pasar Gubug yang Terbakar, Pemkab Grobogan Ajukan Rp76 Miliar ke Pusat
"Buatku libur semester genap kemarin itu bonus. Saya bisa turun ke lapangan seharian penuh. Pokoke gasss puol...," ujarnya sambil terkekeh.
Dari Pesan Ibu Mertua hingga Menjadi Pendengar yang Baik
Langkah Hemi mantap. Meski ia sadar tidaklah mudah mengemban amanah sebagai Petugas Pencacah Lapangan (PCL) Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
"Awal-awal turun, petugas sensus itu masih dianggap asing. Apalagi, saya pendatang, bukan warga Dusun Bulu," ujarnya membuka cerita.
Ada sejumlah tantangan yang harus ia hadapi ketika melakukan pendataan di lapangan. Mulai dari disepelekan oleh responden, dikira petugas pajak atau Petugas Pendamping Keluarga (PKH) yang mengurus bantuan sosial sampai menjadi tempat curhat khususnya soal anak-anak mereka dan kondisi saat ini.
"Alhamdulillah, sejauh ini saya belum pernah ditolak responden. Awal-awal, mungkin karena masih belum tahu ada sensus ekonomi, juga tidak kenal saya, mereka tertutup, jawab sekadarnya. Ini tantangan waktu pertama pendataan," tuturnya.
Persoalan itu lantas sampai ke telinga mertuanya yang merupakan warga Dusun Bulu. Beruntung, dari situ justru ia memperoleh jurus jitu yang ampuh untuk menghadapi seluruh tantangan tersebut.
"Ibu pesan, saat memperkenalkan diri ke responden langsung sampaikan jika saya menantunya Pak Lamin, Ketua RT 005. Berikutnya baru menjelaskan soal sensus ekonomi dan lainnya," katanya.
Dari respon yang acuh karena belum mengenal, dengan jurus jitu tersebut ternyata ampuh membuka komunikasi yang penuh kekeluargaan. Bahkan, tak jarang Hemi disuguhi responden aneka minuman dan makanan.
"Ada juga yang sampai bawain pisang, jeruk, dan lainnya. Jadi, begitu bilang saya menantunya Pak Lamin, mereka langsung nyambung. Wawancara juga mengalir, tidak sekadarnya. Sehingga jawaban yang saya dapat lebih akurat," bebernya.
Menurut Hemi, kedekatan hubungan sosial mertuanya dengan masyarakat, memberinya kemudahan menjalankan pendataan di lapangan. Bahkan, tidak sedikit, ia mendapati responden yang justru bercerita panjang lebar tentang anaknya, pekerjaan, dan sebagainya.
"Tidak sedikit responden yang curhat. Ya, mau tidak mau saya harus mampu menjadi pendengar yang baik. Karena dengan begitu, pembicaraan mengalir, saya dapat menggali informasi dengan mudah dan jauh lebih akurat. Meskipun memang menghabiskan waktu lebih lama," bebernya berbagi tips.
Sensus Ekonomi: Satu dari Tiga Sensus Dalam Dekade Sepuluh Tahun
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Grobogan A'idzin menyebut bahwa, sensus ekonomi ini merupakan salah satu tugas yang harus dijalankan oleh institusinya dalam waktu sepuluh tahun sekali.
Bupati Grobogan Setyo Hadi (paling tengah) dan Kepala BPS Grobogan A'idzin (lima dari kiri) seusai Pencanangan Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. (Achmad Fazeri/Disway Jateng)--