TEGAL, diswayjateng.id - Teriakan takbir menggema membelah udara di luar Komplek Gedung Parlemen Kota Tegal, tepat setelah DPRD mengetuk palu tanda berakhirnya Rapat Paripurna pada Kamis, 25 Juni 2026.
Di bawah sengatan terik matahari, ratusan warga muslim yang tergabung dalam Aliansi Eling Anak Keturunan rela berpanas-panasan, bahkan sebagian besar di antaranya sedang menjalankan ibadah puasa.
Dipimpin oleh Edi Friyono bersama sejumlah kiai sepuh dan tokoh agama, massa bergerak tertib namun sarat emosi.
Langkah mereka tertahan oleh barikade ketat petugas kepolisian yang sudah bersiaga di depan Gedung Parlemen. Kedatangan mereka membawa satu misi mutlak: menyuarakan keresahan dan melakukan aksi penolakan tempat hiburan malam di Tegal, khususnya di wilayah Kelurahan Sumurpanggang, Kecamatan Margadana.
BACA JUGA:DPRD Kota Tegal Gelar Rapat Paripurna Penyampaian Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025
BACA JUGA:SD Mutu Kota Tegal Studi Tiru ke SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta
Benteng Religius Sumurpanggang yang Terancam
Kecamatan Margadana selama ini dikenal sebagai wilayah yang kental dengan nilai-nilai religius. Di sekitar lokasi yang direncanakan menjadi tempat hiburan malam tersebut, berdiri kokoh rumah ibadah dan pusat pendidikan Islam.
- Fasilitas Ibadah: Masjid dan musala yang aktif digunakan warga.
- Pendidikan Islam: Sedikitnya ada tiga pondok pesantren serta sejumlah lembaga pendidikan formal maupun nonformal.
Ustaz Hambali, salah satu tokoh agama setempat yang mengenakan peci hitam, menjadi orator pertama yang membakar semangat massa.
“Warga Sumurpanggang menolak keras! Karena akan menjadi tempat kemaksiatan. Di dekat sana ada pesantren dan masjid. Kami takut anak cucu kami kelak menjadi generasi yang bobrok mentalnya. Karena itu, kami meminta untuk ditutup atau dipindahkan ke tempat yang paling jauh,” tegas Ustaz Hambali yang langsung disambut pekikan takbir, "Allahu akbar! Allahu akbar!"
BACA JUGA:Muhammadiyah Kota Tegal Tegas Tolak Rencana Tempat Hiburan Malam di Margadana
Senada dengan Ustaz Hambali, kiai sepuh KH Sarkowi dan KH Abdul Jalil juga menegaskan sikap mereka tanpa kompromi.
"Pokoknya titik. Harus dihentikan. Jangan sampai masyarakat berkelakuan bejat," ucap KH Abdul Jalil.
Warga mengaku kecolongan. Berdasarkan informasi yang beredar, lokasi tersebut semula merupakan bangunan hotel biasa. Namun, belakangan muncul identitas baru yang sangat mencolok dan memicu reaksi keras karena adanya rencana penambahan fasilitas seperti cafe dan pertunjukan musik tanpa adanya persetujuan atau tanda tangan dari warga setempat.