PEKALONGAN, diswayjateng.com - Prestasi membanggakan datang dari dunia pendidikan Kota Pekalongan. Ahmad Ali Rayyan Shahab (17), siswa MAN Insan Cendekia Pekalongan, sukses mengantongi 15 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama dunia yang tersebar di enam negara.
Negara tujuan tersebut meliputi Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, hingga Australia. Deretan kampus yang menerima Rayyan juga bukan sembarangan, beberapa di antaranya masuk jajaran universitas top dunia.
Di antaranya University of California San Diego (UCSD) jurusan Geoscience, University of California jurusan Environmental Engineering, University of British Columbia jurusan Applied Engineering, University of Manchester jurusan Environmental Science, hingga University of Auckland jurusan Environmental Science.
“Tentunya kalau saya itu bilang ke diri saya satu tahun yang lalu bahwa saya diterima 15 universitas luar negeri, tentu mungkin merupakan sebuah kejutan lah. Artinya, bahkan saya satu tahun yang lalu tidak akan percaya saya bisa dapat apa ya, berada di titik ini. Jadi tentunya sebuah surprise untuk bisa mendapatkan Letter of Acceptance dari 15 universitas di mancanegara dan universitas yang top dunia seperti itu.” Kata Rayyan, saat dihubungi melalui sambungan telponnya.
Perjalanan Panjang Sejak Kelas XI
Rayyan yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara, putra pasangan Salim Shahab dan Fitria asal Jakarta Timur, menegaskan bahwa capaian tersebut tidak diraih secara instan.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan lingkungan yang mendukung penguasaan bahasa asing. Namun, tekad untuk melanjutkan studi ke luar negeri baru benar-benar ia mantapkan saat duduk di bangku kelas XI.
Salah satu langkah penting dalam perjalanannya adalah mengikuti program pertukaran pelajar AFS (American Field Service) selama 10 bulan di Finlandia. Pengalaman ini menjadi titik balik dalam memperluas wawasan globalnya.
“Saya belajar banyak, mulai dari pengelolaan sampah hingga isu lingkungan lainnya. Itu sangat membantu saat proses pendaftaran kampus,” ujarnya.
Selama di Finlandia, Rayyan tak hanya belajar di sekolah bertaraf internasional, tetapi juga memperkaya pengalaman lintas budaya serta memperdalam minatnya di bidang lingkungan.
Strategi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Belajar Keras
Sepulang dari luar negeri, Rayyan semakin serius menyiapkan diri. Ia aktif mencari informasi kampus, mengikuti pameran pendidikan, serta mempersiapkan berbagai dokumen penting seperti IELTS (International English Language Testing System) dan SAT (Scholastic Assessment Test).
Ia juga rutin berdiskusi dengan orang tua untuk menentukan arah studi yang sesuai dengan minatnya di bidang teknik dan lingkungan.
“Bersama Umi dan Abah, saya terus berdiskusi. Saya konsisten dengan jurusan yang saya suka, teknik dan ilmu lingkungan di sejumlah kampus terbaik dunia. Sejak akhir tahun saya sudah ikut tes IELTS dan SAT sebagai salah satu modal penting. Disamping terus berlatih menulis ‘motivation letter’,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan menembus kampus luar negeri bukan hanya soal kecerdasan akademik, melainkan strategi yang matang sejak awal.