“Bukan soal siapa paling pintar, tapi bagaimana menyusun strategi sejak awal. Saya mulai lebih dulu, mencari informasi, dan mempersiapkan semuanya secara terarah, saya bisa dikatakan curi star,” katanya.
“Sebenarnya saya di sini lebih banyak bagaimana bisa mendapatkan LoA ini itu bukan dari usaha yang "brute force" kalau dibilang, atau usaha yang mati-matian. Tapi lebih kepada strategi kita gitu. Jadi bukan dengan saya itu mati-matian belajar tiap hari begadang, tapi dengan cara menyusun strategi yang efektif gitu dalam meraih beasiswa ini, dalam meraih Letter of Acceptance ini,” tambahnya.
Aktif Organisasi dan Isu Lingkungan
Seleksi kampus luar negeri yang bersifat holistik juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan Rayyan. Selain nilai akademik, pengalaman organisasi dan kontribusi sosial menjadi pertimbangan utama.
Rayyan aktif di organisasi lingkungan seperti Green Generation dan Greenfaith. Ia juga menjadi co-founder komunitas Atma Bawana yang fokus pada pengelolaan sampah di lingkungan sekolah berasrama.
Kegiatan tersebut bahkan mendapat apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan.
“Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat. Dukungan kepala MAN ICP, guru-guru, bahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan turut mengapresiasi. Semua ini ‘dilaporkan’ dalam proses seleksi masuk PTLN,” ungkap Rayyan
Prioritaskan Kuliah di Kanada
Dari berbagai pilihan kampus yang diterima, Rayyan kini memprioritaskan melanjutkan studi di University of British Columbia, Kanada, dengan jurusan Environmental Engineering.
Ia juga tengah mengajukan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Garuda untuk mendukung pendidikannya.
“Saat ini saya sedang mengajukan beasiswa dan saya itu menaruh prioritas itu di Canada, University of British Columbia. Jadi pilihan prioritas pertama saya itu di mana nanti saya akan masuk di engineering, Environmental Engineering gitu,” ungkapnya.
Dukungan Keluarga Jadi Fondasi
Rayyan menegaskan, dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam proses yang ia jalani. Orang tua tidak hanya memberi kebebasan memilih jurusan, tetapi juga terlibat dalam proses administrasi.
“Ayah dan ibu selalu mendukung dan memberi saya ruang untuk berkembang. Mereka juga membantu dalam proses pendaftaran,” ungkapnya.
Ia pun membagikan pesan kepada pelajar lain agar berani bermimpi besar dan mulai mempersiapkan diri sejak dini.
“Jangan takut bermimpi dan jangan minder. Mimpi itu bukan untuk ditunggu, tapi dikejar sejak dini,” tuturnya.
15 Siswa Lolos PTLN, 31 Diterima PTN
Secara keseluruhan, tahun ini MAN Insan Cendekia Pekalongan mencatat capaian impresif. Sebanyak 15 siswa diterima di Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN).
Selain Rayyan, terdapat pula siswa lain bernama Valzan Baruna Arkanata yang bahkan memperoleh 24 LoA dari berbagai universitas luar negeri. Sementara siswa lainnya rata-rata mengantongi lebih dari dua LoA.
“Sudah ada 15 orang yang diterima di perguruan tinggi luar negeri. (Satu anak) ada yang 24 (PTLN), 15, ada yang 10, ada yang 4, ada yang 3, itu di luar negeri baik yang di benua Amerika kemudian di Australia maupun di Eropa, itu yang di luar negeri,” kata Kepala MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, Senin (06/05/2026).