Persis Solo Legawa Aksi Vandalisme Suporter Sebagai Bentuk Kekecewaan

Persis Solo Legawa Aksi Vandalisme Suporter Sebagai Bentuk Kekecewaan

Manajemen Persis Solo memilih bersikap legawa menyikapi aksi vandalisme yang terjadi usai tim dipastikan terdegradasi ke Liga 2 musim depan. -Istimewa-

SOLO, diswayjateng.id – Manajemen Persis Solo memilih bersikap legawa menyikapi aksi vandalisme yang terjadi usai tim dipastikan terdegradasi ke Liga 2 musim depan. 

Coretan pilox dan berbagai tulisan protes diketahui muncul di sejumlah fasilitas milik klub, mulai dari Persis Store, mess pemain, hingga kantor manajemen.

Direktur Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, mengaku memahami kemarahan dan kekecewaan suporter terhadap hasil buruk yang dialami Laskar Sambernyawa sepanjang musim ini.

“Saya memahami kekecewaan teman-teman suporter. Vandalisme itu saya lihat sebagai bentuk protes dan kritik atas hasil yang memang di luar harapan semua pihak,” ujarnya.

Meski demikian, Ginda memastikan manajemen tidak akan larut dalam situasi tersebut dan tetap fokus membangun kembali tim untuk menghadapi kompetisi Liga 2.

Menurutnya, manajemen saat ini tengah menyusun laporan evaluasi menyeluruh yang nantinya disampaikan kepada pemilik klub sebagai dasar pembenahan tim musim depan.

“Kami tidak akan berhenti untuk Persis. Fokus kami sekarang bagaimana menyiapkan langkah agar bisa segera kembali ke Liga 1,” katanya.

Ia mengungkapkan aksi vandalisme terjadi di tiga titik berbeda, yakni Persis Store, mess pemain, dan kantor klub. Namun mayoritas hanya berupa tempelan kertas protes dan coretan pilox.

Ginda menegaskan Persis memiliki arti besar bagi Kota Solo sehingga evaluasi besar-besaran menjadi hal yang tidak bisa dihindari pascadegradasi.

“Persis bukan sekadar klub sepak bola, tapi bagian dari identitas Kota Solo. Karena itu evaluasi pasti dilakukan,” tegasnya.

Ia juga menyatakan siap menerima segala keputusan manajemen maupun pemilik klub terkait evaluasi internal jajaran direksi.

Sebagai sosok yang lama berada di lingkungan Persis, Ginda mengaku turut merasakan sakit hati atas turunnya tim ke Liga 2. Sebelum masuk manajemen, ia pernah menjadi suporter hingga bagian dari panitia pelaksana pertandingan saat Persis promosi ke Liga 1.

“Saya juga pernah ada di posisi suporter. Jadi saya mengerti rasa kecewa itu,” katanya.

Menurutnya, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk menyelamatkan Persis dari degradasi, termasuk pergantian pelatih dan perubahan komposisi pemain di tengah kompetisi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: