Pelajar Diteror Usai Kritisi Program MBG, Dinsos Kudus Berikan Pendampingan

Pelajar Diteror Usai Kritisi Program MBG, Dinsos Kudus Berikan Pendampingan

Tim Dinsos Kudus menemui Muhammad Rafif Arsya Maulidi di SMK NU Miftahul Falah. --

KUDUS, diswayjateng.com- Aksi Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa SMK NU Miftahul Falah KUDUS yang mengkritisi program Makanan Bergizi Gratis (MBG), tampak berbuntut panjang. 

Keberaniannya meminta agar Presiden Prabowo Subianto mengalihkan anggaran MBG untuk kesejahteraan guru honorer, malah berujung intimidasi virtual.

Mirisnya lagi, pelajar laki laki ​kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Miftahul Falah ini, mengaku menjadi sasaran ujaran kebencian. Selain itu, ancaman melalui pesan singkat di Instagram (Direct Message).​​

Arsya, demikian sapaan Muhammad Rafif Arsya Maulidi, menyebut bahwa teror itu datang dari orang tak dikenal, usai dirinya mengunggah surat penolakan MBG di akun media sosial miliknya kemarin lusa. 

Belum diketahui persis identitas pengirim pesan yang berisi ancaman kepada Arsya. Namun, pengirim ancaman itu diduga kuat merupakan oknum karyawan dari Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai program MBG. 

"Saya mendapat pesan ancaman. Orangnya mengaku punya bekingan (pelindung). Jujur saya merasa tidak nyaman, padahal saya merasa tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujar Arsya saat dihubungi wartawan. 

​Menurut Arsya, alasan dirinya menolak program MBG bukan karena tidak menghargai program pemerintah. Namun ia merasa bahwa kesejahteraan guru di sekolahnya, jauh lebih mendesak untuk diperhatikan.​

“Saya merasa lebih lega kalau jatah anggaran MBG saya bisa diberikan untuk kesejahteraan guru-guru di SMK,” terang Arsya. 
Dinsos melakukan pendampingan psikologis kepada Muhammad Rafif Arsya Maulidi. --

Sementara itu, kabar munculnya intimidasi terhadap salah satu pelajar SMK Miftahul Falah Desa Cendono, Kecamatan Dawe ini, direspon cepat oleh Pemkab Kudus. 

Pihak Dinas Sosial P3AP2KB Kudus mendatangi SMK Miftahul Falah pada Senin (6/4/2026). Kedatangan mereka untuk menemui Arsya yang mengaku mendapat ancaman. 

Tim Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos Kudus itu, untuk memastikan kondisi psikologis pelajar yang bersangkutan, usai mengalami intimidasi.

"Siswa (Arsya) tersebut dalam keadaan tenang dan tidak mengalami traumatis secara mendalam usai mendapat intimidasi, " ujar Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus Putut Winarno melalui Kabid Perlindungan PPA, Yuni Saptorini. 

Yuni mengaku bahwa Arsya sempat menjelaskan alasannya menulis surat secara terbuka untuk Presiden Republik Indonesia itu. 

Yuni menilai bahwa siswa SMK Miftahul Falah Kudus ini, memang terlihat berani dan percaya diri usai postingannya tersebut viral di media sosial.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: