Pelajar Diteror Usai Kritisi Program MBG, Dinsos Kudus Berikan Pendampingan
Tim Dinsos Kudus menemui Muhammad Rafif Arsya Maulidi di SMK NU Miftahul Falah. --
"Dia memang anak yang berani. Kepada kami, Arsya bercerita bahwa tulisan itu dia buat atas dasar hati nuraninya sendiri, bukan permintaan orang lain," tutur Yuni.
Yuni menjelaskan bahwa siswa tersebut juga sudah memahami risiko yang terjadi, ketika tindakannya tersebut viral dan mendapat respons banyak pihak.
Awalnya, Arsya mengaku sempat mengalami ketakutan usai postingannya viral. Kepada Yuni, Arsya mengaku was-was, ketika mendapat serangan secara fisik dari orang yang tidak dikenal.
Namun, imbuh Yuni, kini Muhammad Rafif Arsya Maulidi tidak lagi merasa takut. Sebab ternyata telah mendapat dukungan dari banyak orang.
"Awalnya takut, tapi saat ini anak tersebut sudah tenang dan bisa menjelaskan secara detail," papar Yuni.
Sebelum menulis surat tersebut, Arsya juga mengaku telah melakukan diskusi dan mendapat dukungan dari orang tuanya.
Bahkan ia juga sempat berkonsultasi dengan Ketua BEM UMK, sebelum akhirnya mendapat dukungan dari Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. 
Tangkapan layar IG akun Muhammad Rafif Arsya Maulidi yang menolak MBG--
Dalam kesempatan itu, Yuni juga menawarkan pendampingan psikologis kepada Muhammad Rafif Arsya Maulidi. Yakni berupa tenaga psikolog.
Namun, tawaran ditolak Arsya lantaran masih dalam kondisi baik-baik saja dan sehat secara fisik maupun mentalnya.
"Siswanya merasa kondisinya sehat dan aman, ketika dibutuhkan, kami siap mendampingi secara psikologis dan mendatangkan psikolog," tandasnya.
Yuni juga bercerita perihal keresahan siswa tersebut yang menyadari kondisi kesejahteraan guru di Kudus belum sejahtera.
"Si Arsya berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah lain, menyadari masih banyak guru yang belum sejahtera. Dia mengaku tidak menolak MBG, hanya meminta dialihkan untuk guru-gurunya," ucapnya.
Hal itu yang menjadi alasan Arsya membuat surat terbuka tentang program MBG kepada Presiden Prabowo.
Kendati begitu, Yuni tetap berpesan kepada Arsya untuk menjaga diri dan bersikap bijak atas unggahan yang sudah menggemparkan Kudus itu.
Baginya, kasus yang dialami Arsya termasuk bagian dari perundungan digital alias cyber bullying. Kasus-kasus tersebut cukup meningkat semenjak penggunaan media sosial bisa diakses secara bebas oleh anak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
