Guru yang tidak memperbarui kompetensinya berisiko kesulitan mengelola pembelajaran berbasis digital.
Ketua PGRI Batang, M. Arief Rohman, memaparkan bahwa komposisi guru di Batang saat ini didominasi generasi muda, yang secara umum lebih adaptif terhadap teknologi.
“Dari sekitar 5.000 guru, 70 persen adalah generasi muda dan 30 persen mendekati masa purna tugas,” jelasnya.
Komposisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan karena transfer pengetahuan digital harus berjalan dua arah antara guru muda dan senior.
Arief juga menyebutkan bahwa 98 persen guru di Batang telah tersertifikasi, sementara sisanya masih menunggu antrean Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Namun sertifikasi, menurutnya, belum otomatis menjawab persoalan kesenjangan literasi digital di ruang kelas.
Di sinilah Hari Belajar Guru menjadi penting sebagai forum aktualisasi dan pembaruan kompetensi, terutama dalam pembelajaran berbasis teknologi.
Isnaini Imaniah (30), guru PAI dari SDN Posong 01, mengaku kegiatan ini membantunya memahami kurikulum terbaru dan teknik pembelajaran berbasis digital atau Implementasi IHP.
“Luar biasa karena ini menambah ilmu, guru selain mengajar murid juga harus belajar lagi supaya bisa menyampaikan dengan baik ke murid,” katanya.
Ia menyadari bahwa anak-anak saat ini tumbuh dalam ekosistem digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
“Anak-anak sekarang sudah pintar digital, jadi guru yang masih gaptek dilatih supaya bisa mengimbangi murid-murid yang sudah melek teknologi,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan realitas bahwa transformasi pendidikan tidak hanya soal perangkat, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.