Menurutnya, sejarah mencatat tokoh NU mampu menjalankan peran ganda tanpa menabrak batas organisasi.
Ia mencontohkan KH Abdurrahman Wahid yang pernah memimpin PBNU sekaligus mendirikan PKB.
Dalam konteks Jawa Tengah, mundurnya Gus Yusuf dari struktur PKB dinilai memberi ruang konsolidasi internal partai.
Asip menyebut kepemimpinan PKB Jawa Tengah ke depan akan bertumpu pada penguatan sistem dan kelembagaan.
“PKB harus bergerak dari figur ke sistem, dari ketokohan ke struktur,” ujarnya.
Ia menilai kombinasi kekuatan kultur pesantren dan struktur partai menjadi kunci menjaga eksistensi PKB di tengah persaingan politik.
Bagi Asip, langkah Gus Yusuf justru membuka peluang lebih luas bagi NU untuk menempatkan kader pesantren di panggung nasional.
“Sudah saatnya tokoh pesantren tampil memimpin di level nasional,” katanya.
Menurutnya, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang kuat secara moral, spiritual, dan intelektual.
“Pembangunan tidak cukup lahiriah, tetapi harus ditopang kekuatan ruhani,” pungkas Asip.