Jatimulya Tegal Dikepung Banjir, Jembatan Putus dan Ratusan Rumah Terendam

Jatimulya Tegal Dikepung Banjir, Jembatan Putus dan Ratusan Rumah Terendam

JEMBATAN PUTUS - Kepala Desa Jatimulya, Daryono bersama TNI mengecek jembatan di desanya yang putus, Senin (16/2/2026).--

SLAWI, diswayjateng.comDesa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal dikepung banjir. Derasnya arus Sungai Cenang akhirnya memutus jembatan penghubung dua pedukuhan Desa Jatimulya Minggu (15/2/2026) malam. Jembatan besi sepanjang 30 meter dan lebar 2 meter itu putus setelah tak mampu menahan gempuran debit air yang meluap hebat hingga menyebabkan ratusan rumah terendam.

Jembatan yang dibangun pada 1998 tersebut merupakan akses vital penghubung Pedukuhan Grogolan dan Gemahsari. Kini, warga harus memutar sejauh sekitar 1 kilometer. Padahal, jika melalui jembatan itu, jarak tempuh hanya sekitar 100 meter.

Kepala Desa Jatimulya, Daryono, menuturkan, jembatan tersebut sudah berusia hampir tiga dekade dan diduga mulai rapuh. Saat arus deras menghantam, konstruksi besi tak lagi mampu bertahan.

“Jembatan itu akses utama warga untuk ekonomi, sekolah, sampai berobat. Sekarang putus total. Aktivitas warga jelas terganggu,” ujarnya, Senin (16/2/2026).

 

Tak hanya jembatan yang putus, Desa Jatimulya juga kembali dilanda banjir besar. Ketinggian air bervariasi, mulai 60 sentimeter hingga 1,5 meter. Ratusan rumah terendam. Jalan kabupaten ruas Jatimulya–Harjasari bahkan tergenang hingga 1,5 meter. Sementara ruas Jatibogor–Kertasari terendam sekitar 80 sentimeter.

Banjir terjadi sejak Minggu malam hingga Senin (16/2/2026) pagi. Dalam 10 hari terakhir, desa ini sudah lima kali diterjang banjir.

“Air masuk ke dalam rumah warga sampai setinggi dada orang dewasa. Pagi tadi sebagian memang sudah surut, tapi menyisakan lumpur setinggi lutut. Masih ada rumah yang tergenang,” kata Daryono.

Ia menyebut, hingga kini belum ada penanganan serius dari Pemkab Tegal. Warga masih mengandalkan swadaya. Padahal, mereka sangat membutuhkan bantuan makanan siap saji dan kebutuhan darurat lainnya.

Tak hanya permukiman, gedung pendidikan mulai dari TK, SD hingga SMP ikut kebanjiran. Kantor balai desa pun tak luput dari genangan.

Menurut Daryono, banjir dipicu luapan Sungai Cenang yang sudah dangkal dan alirannya tersumbat sampah di bawah jembatan sisi barat balai desa.

Sampah berupa kayu, bambu, daun kering hingga material lain terbawa dari hutan perbukitan lereng Gunung Slamet saat hujan deras mengguyur.

“Kami berharap ada normalisasi sungai dan penanganan serius. Jembatan yang putus semoga segera mendapat bantuan anggaran. Warga juga sangat butuh uluran tangan,” tegasnya.

Di tengah kepungan banjir, lima warga yang sakit terpaksa dievakuasi dari RT 03 RW 03 dan RT 05 RW 03. Namun, ada pula warga yang memilih bertahan di rumah meski air masih menggenang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait