Denyut Terakhir Lapak Buku Stadion Diponegoro: Ketika Pasar Ilmu Tinggal Kenangan 

Rabu 14-01-2026,08:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

Menurut Harri, penurunan mulai terasa sejak 2019 dan kian tajam setelah pandemi Covid-19. Dunia pendidikan beralih ke sistem daring. Kebiasaan membaca buku fisik perlahan ditinggalkan. 

“Sekarang mahasiswa sudah tidak lagi mencari buku. Metode penelitian, statistik yang dulu paling banyak dicari, sekarang nyaris enggak ada yang ambil,” tuturnya. 

Pembeli yang datang kini kebanyakan berasal dari generasi tua, pedagang pasar, atau warga sekitar yang sekadar mampir. Meski demikian, satu buku yang terjual saja sudah cukup membuat Harri merasa harinya tidak sepenuhnya gagal. 

“Kalau satu buku laku saja sudah senang,” ujarnya sambil tersenyum tipis. 

Di kios Harri di lapak buku Stadion Diponegoro ini, harga buku sangat beragam. Ada yang dijual mulai Rp1.000 hingga puluhan ribu rupiah. Sebagian besar merupakan buku asli bekas, koleksi lama, atau literatur yang dulu ramai dicari.

BACA JUGA:PSI Kota Semarang Matangkan Strategi Kandang Gajah, Incar 15 Kursi DPRD

BACA JUGA:Jelang Operasional Pasar Ikan Rejomulyo Semarang, Lapak PKL di Atas Drainase Dibongkar Satpol PP  

Kini, buku-buku itu lebih sering menjadi pajangan dibandingkan barang dagangan. Rak-rak penuh pengetahuan berdiri bisu, menunggu tangan-tangan yang tak kunjung datang. 

Harri sempat mencoba peruntungan dengan berjualan secara daring melalui marketplace. Namun kenyataan tak seindah janji dunia digital. Biaya administrasi yang mencapai 17 persen, ditambah risiko pembeli yang membatalkan pesanan atau tidak membayar saat sistem bayar di tempat (COD), justru membuatnya merugi. 

“Keuntungan habis. Kadang malah rugi,” katanya. 

Ia akhirnya memutuskan berhenti berjualan daring pada pertengahan 2025.

Koordinator Paguyuban Pedagang Buku dan Jasa Stadion Timur, Didik Martanto, menyebut kondisi yang dialami Harri adalah potret umum pedagang buku di kawasan tersebut. 

“Dulu ada sekitar 70 lapak. Sekarang paling banyak tinggal 15, itu pun tidak semuanya buka setiap hari,” ungkap Didik. 

Biaya sewa lapak yang mencapai sekitar Rp4 juta per tahun dinilai tak lagi sebanding dengan pemasukan. Menurut Didik, pedagang buku kini bukan lagi berbicara soal untung, melainkan sekadar bertahan hidup. 

“Isinya cuma bertahan. Banyak yang terlilit utang, stres, kena stroke, bahkan meninggal,” katanya lugas. 

Ia menyebut buku cetak mengalami penurunan tajam. Buku yang masih bertahan hanyalah bacaan ringan. Sementara buku pendidikan, yang dahulu menjadi tulang punggung penjualan, kini nyaris tak bisa diharapkan. 

Kategori :