Denyut Terakhir Lapak Buku Stadion Diponegoro: Ketika Pasar Ilmu Tinggal Kenangan 

Rabu 14-01-2026,08:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

“Ini efek perkembangan zaman. Dosen tidak lagi mewajibkan buku, cukup pakai PPT. Mahasiswa pun tidak membeli,” ujarnya. 

Pergantian kurikulum turut memperparah kondisi pedagang buku. Buku pelajaran menjadi cepat usang sebelum sempat habis terjual. 

“Begitu kurikulum ganti, buku jadi mangkrak. Karena ganti kurikulum juga ganti buku. Buku sudah jadi bisnis, bukan sebagai ilmu. Akhirnya dijual kiloan, modal tidak kembali, malah rugi,” jelas Didik. 

Kerugian ini tak hanya dialami pedagang, tetapi juga penerbit dan percetakan. Didik menilai dunia buku kini tak lagi sepenuhnya berpihak pada pendidikan. 

“Ganti kebijakan, ganti kurikulum, buku ikut berganti. Yang rugi pedagang,” tegasnya. 

Di ranah digital, masalah lain muncul. Buku bekas asli kerap dicurigai sebagai buku bajakan oleh platform daring. 

“Padahal buku-buku ini asli, hanya keluaran lama,” keluhnya. 

Perubahan cara belajar generasi muda turut mempercepat meredupnya lapak buku. Perkuliahan daring, kemudahan akses materi digital, hingga kehadiran kecerdasan buatan membuat mahasiswa semakin jarang bersentuhan dengan buku fisik. 

Kawasan Stadion Timur yang dulunya menjadi sentra literasi kini mengalami seleksi alam. Satu per satu lapak tutup, beralih fungsi menjadi lapak kuliner, atau disewakan. 

Di bagian belakang stadion, rak-rak tua dan lorong sempit menjadi saksi sisa-sisa kejayaan. Buku-buku masih tersusun rapi, penjual masih setia menunggu, tetapi pembeli tak lagi ramai. 

Kawasan yang dulu menjadi rujukan literasi itu kini seolah hanya menunggu waktu. 

“Kita lihat saja masih bisa bertahan sampai kapan. Harapannya pemerintah mau bantu, sistem dikembalikan lagi ke buku,” kata Didik, dengan senyum kecut yang menyimpan kebingungan.

Kategori :