Ia tidak sedang menghitung berapa besar pengeluaran yang harus diganti.
Yang ia pikirkan adalah bagaimana ambulans tetap bisa berangkat ketika telepon kembali berbunyi.
“Intinya gimana lah, yang penting mobil kita bisa jalan, kan harus ada BBM,” katanya.
Bantuan Mulai Bergerak
Persoalan operasional tersebut kemudian mulai mendapat perhatian. Menurut informasi yang disampaikan dalam perkembangan terbaru, Pemkab Batang melalui jajaran terkait telah merespons keluhan mengenai kebutuhan operasional.
Pendataan dukungan bagi pengemudi ambulans juga mulai dilakukan.
Pada Sabtu, bantuan sekitar Rp5 juta dari Sekcam Bawang disebut telah diterima dan langsung dibagikan untuk membantu kebutuhan teman-teman ambulans, terutama terkait perjalanan dan kepulangan pasien.
Bantuan tersebut datang ketika sebagian armada masih dibutuhkan untuk mengantar pasien.
Artinya, persoalan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana pasien mendapatkan perawatan.
Ada kebutuhan lain yang muncul bersamaan: bagaimana kendaraan yang membawa pasien tetap bisa bergerak.
Administrasi dan pendataan tetap diperlukan.
Namun di lapangan, kebutuhan BBM muncul setiap kali mesin ambulans dinyalakan.
Dari 276 Menjadi 589
Pergerakan ambulans itu berjalan beriringan dengan bertambahnya jumlah pasien.
Pada Rabu malam, angka awal yang dilaporkan mencapai 276 orang. Mereka terdiri atas penerima manfaat MBG dan warga yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang, termasuk orang tua.
Jumlah tersebut kemudian bertambah. Pada Jumat, Dinkes Batang mencatat 521 kasus per pukul 13.00 WIB. Sehari berikutnya, pembaruan data mencapai 589 kasus.