Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kesibukan ambulans bukan hanya berlangsung pada satu malam.
Mobilitas terus berlanjut ketika pasien harus dirujuk, ketika pasien diperbolehkan pulang, bahkan ketika permintaan evakuasi baru kembali masuk.
Dua Hari Tanpa Mandi
Di balik perjalanan itu ada tubuh yang juga memiliki batas.
Mustakim mengaku belum sempat pulang dan mandi selama dua hari ketika kondisi berada pada puncaknya.
Mbah Parno, Koordinator Kelompok Ambulans Alas Roban, mengalami hal serupa.
Dua hari dua malam ia berada dalam rangkaian evakuasi. Ia baru sampai rumah sekitar tengah malam.
Tetapi rumah tidak otomatis berarti istirahat.
Pada Kamis malam, sekitar pukul 23.30 WIB, permintaan kembali datang.
Delapan anak dari sebuah pondok di Kecamatan Bawang harus diantar menuju Kecamatan Reban menggunakan dua ambulans.
Mbah Parno kembali berangkat.
“Terus terang saya pun dua hari dua malam ini, saya pulang itu semalam pulang jam 12,” tuturnya.
Peristiwa itu menggambarkan bagaimana penanganan kasus tersebut tidak berhenti ketika pasien tiba di rumah sakit.
Sebagian pasien kemudian harus dipulangkan. Sebagian lainnya harus dirujuk.
Ada pula keluarga yang membutuhkan kendaraan untuk kembali ke Bawang setelah pasien dinyatakan dapat pulang.
Rantai perjalanan itu terus berjalan. Dan setiap perjalanan membutuhkan bahan bakar. Ketika uang pribadi ikut menjadi bahan bakar