Cerita Sirene 80 Ambulans yang Membelah Jalanan Batang

Minggu 27-09-2026,12:48 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Ismail F

Persoalan BBM menjadi cerita lain yang tidak selalu terlihat dari luar ambulans.

Sebagian besar ambulans desa yang bergabung dalam mobilitas KAAR menggunakan pembiayaan dari pengemudi untuk bahan bakar.

Ambulans organisasi ditanggung organisasinya, sedangkan ambulans puskesmas menggunakan dukungan operasional masing-masing puskesmas.

Pada awal kejadian, para sopir masih mengandalkan uang yang mereka miliki.

Masalah muncul ketika perjalanan dilakukan berkali-kali dalam sehari.

Jarak Bawang menuju Batang, menurut Mbah Parno, dapat mencapai sekitar 50 hingga 60 kilometer dalam sekali perjalanan. Jika harus pergi dan kembali, jaraknya tentu bertambah.

Belum termasuk perjalanan menjemput pasien dari rumah.

Belum termasuk perpindahan antarfasilitas kesehatan. Belum termasuk perjalanan mengantar pasien pulang.

Saat stok BBM mulai menipis, para sopir mulai kebingungan.

Malam itu, sebagian sopir mengeluhkan uang untuk mengisi bahan bakar sudah tidak tersedia.

Mbah Parno kemudian mengambil keputusan sendiri.

Ia membuka tabungannya.Uang tersebut dibagikan kepada para pengemudi sebagai bantuan sementara untuk membeli BBM.

“Saya punya tabungan sendiri. Bismillah, yang penting saya bagikan ke teman-teman ambulans. Saya kasih sementara per orang Rp150 ribu buat beli BBM,” katanya.

Rp150 ribu mungkin tidak besar jika dibandingkan kebutuhan perjalanan puluhan kilometer.

Tetapi pada malam ketika ambulans masih dibutuhkan, uang itu menjadi bahan bakar agar kendaraan tetap dapat bergerak.

“Tidak akan cukup, jelas itu. Tapi setidaknya bisa bertahan di tugas kemanusiaan ini,” ujar Mbah Parno.

Kategori :