Mustakim, 35 tahun, masih mengingat bagaimana hari pertama kejadian itu berubah menjadi perjalanan panjang yang tidak ia rencanakan.
Sejak Rabu sore, ia mengemudikan ambulans untuk mengevakuasi pasien dari rumah maupun pondok pesantren menuju fasilitas kesehatan.
Setelah pasien diturunkan, perjalanan belum selesai. Ia menunggu informasi berikutnya.
“Sejak Rabu kemarin sore. Evakuasi pasien dari rumah, dari pondok, terus dibawa ke sini,” kata Mustakim, Minggu 27 September 2026.
Pada puncak penanganan, satu ambulans bisa mengantar pasien enam hingga delapan kali dalam sehari, menurut penuturannya.
Rutenya berubah-ubah mengikuti ketersediaan tempat perawatan.
Bawang menuju Limpung. Bawang menuju Bandar. Bawang menuju Gringsing. Bawang menuju Batang.
Ketika satu fasilitas kesehatan penuh, pasien harus dialihkan ke fasilitas lain.
Para sopir mengikuti pergerakan itu. Tidak ada istilah satu perjalanan lalu selesai.
“Menjemput pasien, mengantar, menunggu kembali lagi. Menjemput pasien berikutnya,” ujar Mustakim.
Pada Rabu malam, antrean ambulans bahkan disebut mengular hingga kawasan sekitar SPBU.
Sekitar 80 unit ambulans dikerahkan dalam penanganan tersebut, menurut Kelompok Ambulans Alas Roban (KAAR).
Armada itu berasal dari berbagai unsur. Ada ambulans desa, ambulans puskesmas, ambulans organisasi sosial, hingga armada dari luar Kabupaten Batang.
Dalam catatan mobilitas KAAR, puluhan ambulans desa tercatat melakukan perjalanan berulang menuju fasilitas kesehatan di Batang dan wilayah sekitarnya.
Ambulans Desa Pasusukan, misalnya, tercatat melakukan sembilan kali layanan. Ambulans Desa Adinuso Reban delapan kali, sedangkan Jambangan dan Sidoharjo masing-masing tujuh kali.
Lazis Bawang juga tercatat melakukan tujuh kali perjalanan.