RSUD Dr. Soeselo Kabupaten Tegal Bidik Status Utama

Selasa 01-09-2026,08:06 WIB
Reporter : Yeri Noveli
Editor : Laela Nurchayati

Bukan hanya waktu yang dibutuhkan. Anggaran yang harus disiapkan juga tidak kecil. Pengadaan alat kesehatan hingga pembangunan dan penyiapan ruangan membutuhkan investasi dalam jumlah besar.

Di tengah target tersebut, RSUD dr. Soeselo juga terus mengejar pengembangan layanan unggulan. Salah satunya adalah layanan kemoterapi bagi pasien kanker.

Guntur mengatakan, layanan kemoterapi menjadi salah satu prioritas karena kasus kanker yang ditangani RSUD dr. Soeselo terbilang cukup banyak.

BACA JUGA:Sidang Sudewo: Warga Terdampak Proyek DJKA Ajukan Proposal Perbaikan Jalan

BACA JUGA:Ungkap Tiga Kasus Tawuran Pelajar, Polres Purworejo Sita Celurit 1.5 Meter dan Senjata Tajam

Bahkan, dari sisi kesiapan tenaga medis dan fasilitas, rumah sakit mengklaim sudah cukup siap.

“Kita sudah siap sebenarnya, dari mulai dokter bedah hingga patologi anatomi dan peralatan juga sudah ada. Namun sampai dengan sekarang belum di-ACC oleh BPJS,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan yang terus didorong agar segera mendapatkan kepastian. Sebab, jika layanan kemoterapi dapat dibuka, pasien kanker di Kabupaten Tegal tidak perlu lagi harus mencari layanan tersebut ke rumah sakit lain.

“Kita berharap layanan kemoterapi ini segera mendapatkan persetujuan, sehingga masyarakat, khususnya pasien kanker, tidak perlu mencari layanan ke rumah sakit lain,” harapnya.

Tak berhenti di kemoterapi, RSUD dr. Soeselo juga tengah mengupayakan pengembangan layanan radioterapi. Layanan ini dipandang penting untuk melengkapi ekosistem pelayanan kanker di rumah sakit tersebut.

“Kita juga sedang mengupayakan paket radioterapi. Ini memang satu paket,” jelas Guntur.

Sebelumnya, pengembangan radioterapi sempat diwacanakan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Langkah itu tak lepas dari kebutuhan investasi yang sangat besar.

“Investasinya sangat besar, paling tidak Rp100 miliar,” ungkapnya.

Di sisi lain, pembenahan pelayanan dasar juga terus dilakukan. Salah satu yang masih menjadi perhatian adalah sistem pendaftaran pasien secara online.

Guntur mengakui, sistem tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Padahal, jika dapat berjalan optimal, pendaftaran online bisa memangkas antrean sekaligus mengubah kebiasaan pasien yang harus datang sejak pagi untuk mengambil nomor antrean.

“Kami juga memiliki unit pengaduan. Kendala yang masih ada adalah pendaftaran online. Kalau ini bisa berjalan, pasien kan tidak perlu datang pagi-pagi,” ujarnya.

Kategori :