Nur Untung menilai konsep semacam itu berpotensi memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kalau konsepnya jelas, perencanaannya matang, dan dirawat, destinasi wisata kita bisa berkembang. Jangan hanya membangun, setelah itu ditinggalkan,” ujarnya.
Ia berharap program wisata 2027 menjadi momentum memperbaiki pola pembangunan destinasi di Kabupaten Batang.
Pengembangan wisata, menurutnya, harus meninggalkan pola kerja sektoral dan mengutamakan kolaborasi.
Terlebih, kawasan pesisir seperti Sigandu membutuhkan pendekatan berbeda karena berhadapan langsung dengan persoalan abrasi.
Dengan perencanaan yang lebih matang dan sinergi lintas sektor, Sigandu diharapkan tidak sekadar menjadi proyek pembangunan.
Kawasan tersebut diharapkan tumbuh sebagai destinasi wisata pesisir yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi ekologis bagi Batang.