Selain itu, kemudahan akses permodalan dan perbaikan sarana produksi seperti kapal juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Dalam konteks ini, peran HNSI dinilai strategis sebagai jembatan antara nelayan dan pemangku kebijakan.
Sementara itu, Teguh Tarmudjo menegaskan bahwa Muscab bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum untuk merumuskan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi nelayan.
“Momentum ini kami harapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, swasta, dan organisasi nelayan,” ungkapnya.
Ia menyoroti sejumlah persoalan mendesak, mulai dari sedimentasi, alur pelayaran, hingga penataan tambat labuh yang masih belum tertata dengan baik.
Menurutnya, perhatian pemerintah daerah terhadap isu-isu tersebut menjadi angin segar bagi nelayan yang selama ini bergulat dengan berbagai keterbatasan.
Lebih lanjut, HNSI Batang juga menyatakan dukungan terhadap program Kampung Nelayan Merah Putih yang digagas pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Beberapa wilayah di Batang seperti Roban Barat, Roban Timur, dan Celong telah diusulkan sebagai lokasi prioritas pengembangan program tersebut.
“Harapannya, program ini bisa segera terealisasi dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan nelayan,” tegas Teguh.
Terpilihnya kembali Teguh Tarmudjo menjadi sinyal kuat bahwa organisasi nelayan di Batang masih menginginkan kesinambungan kepemimpinan di tengah berbagai tantangan sektor perikanan.
Ke depan, sinergi antara HNSI, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu mengurai persoalan lama sekaligus membuka peluang baru bagi kemajuan nelayan Batang.