Hangat di Sigandu Batang, Anak Talasemia Diajak Faelasufa Bahagia Hadapi Hidup

Hangat di Sigandu Batang, Anak Talasemia Diajak Faelasufa Bahagia Hadapi Hidup

Anak anak Talasemia Batang bersama Ketua TP PKK, Faelasuf Faiz di Pantai Sigandu, Rabu 14 April 2026 -ist -

BATANG, diswayjateng.com — Tawa anak-anak pecah di tepi Pantai Sigandu saat puluhan penyandang talasemia diajak menikmati hari yang berbeda oleh Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa.

Kegiatan yang tampak sederhana itu menyimpan makna besar sebagai ruang jeda bagi anak-anak yang sehari-hari bergulat dengan kondisi kesehatan yang tidak ringan.

Faelasufa mengatakan agenda kebersamaan ini sebenarnya telah dirancang sejak tahun lalu, namun baru dapat direalisasikan pada tahun ini karena berbagai pertimbangan teknis.

Ia menegaskan, tujuan utama kegiatan bukan sekadar rekreasi, melainkan menghadirkan kebahagiaan sekaligus dukungan moral bagi anak-anak penyandang talasemia.

BACA JUGA: Dugaan Pelecehan di Kawasan Industri Batang Disorot DPR RI, Kemnaker Turun Tangan

BACA JUGA: Investasi Chile 50 Juta Dollar di KEK Industropolis Batang, Siap Ekspor Grinding Ball ke 50 Negara

“Kami ingin senang-senang bersama anak-anak penderita talasemia, ini bentuk kebersamaan dan perhatian kami,” ujarnya, Rabu 14 April 2026.

Di tengah suasana pantai yang cerah, Faelasufa tampak berbaur langsung dengan anak-anak, mengajak bermain sekaligus menyemangati mereka agar tetap optimistis menjalani kehidupan.

Interaksi itu menjadi momen penting karena tidak hanya memberi hiburan, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara pemerintah daerah dengan keluarga penyandang talasemia.

Faelasufa mengaku sebelumnya belum memahami secara mendalam tentang talasemia hingga akhirnya mendapatkan penjelasan dari komunitas dan tenaga kesehatan.

BACA JUGA: 11 Ribu Liter Minyak Jelantah ASN Batang untuk Rekor MURI Cuan Rp90 Juta

BACA JUGA: Klaim JHT di Pekalongan Sudah Tidak Perlu Antre, BPJS Ketenagakerjaan Pakai Ini

Ia menjelaskan bahwa talasemia merupakan kondisi kelainan darah di mana sel darah merah mudah rusak sehingga penderitanya harus menjalani transfusi darah secara rutin.

Kondisi tersebut, kata dia, berdampak besar terhadap kualitas hidup anak-anak, baik dari sisi kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: