SLAWI, diswayjateng.com – Malam yang seharusnya menjadi jeda usai hujan deras, justru berubah menjadi kabar getir bagi warga Desa Sangkanjaya, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Jembatan gantung di Sungai Gung, urat nadi penghubung desa menuju Danawarih hingga Kota Slawi tiba-tiba pondasinya amblas pada Rabu (25/3/2026) malam.
Jembatan sepanjang sekitar 150 meter dengan lebar 1,5 meter itu selama ini bukan sekadar penghubung, tetapi denyut kehidupan warga. Dari anak-anak berangkat sekolah, petani menuju ladang, hingga pekerja mencari nafkah, semua bertumpu pada jembatan tersebut. Kini, semuanya terhenti.
Fakih, warga RT 02 RW 01 Desa Sangkanjaya, menuturkan bahwa bagian pondasi di sisi timur jembatan tidak mampu menahan derasnya arus Sungai Gung yang meluap setelah hujan mengguyur sejak sore hingga malam hari.
“Air sungai naik sangat cepat. Arusnya deras sekali, sampai akhirnya pondasi di timur amblas. Kami tidak menyangka separah ini,” ujarnya dengan nada cemas, Kamis (26/3/2026) pagi.
Menurutnya, sejak jembatan itu ambruk, aktivitas warga praktis lumpuh total. Tidak ada akses layak yang bisa dilalui, baik untuk pejalan kaki maupun kendaraan.
“Biasanya jembatan itu ramai dari pagi sampai malam. Sekarang sunyi. Warga seperti terkurung di desa sendiri,” imbuhnya.
Harapan sempat tertuju pada jalan alternatif yang pernah dibangun oleh Kodim 0712/Tegal. Namun, kondisi di lapangan belum memungkinkan. Dari total panjang sekitar 1,8 kilometer, baru sekitar 600 meter yang selesai dipadatkan. Sisanya masih berupa tanah liat yang licin dan sulit dilalui, terutama saat hujan.
“Kalau kering mungkin masih bisa dilewati. Tapi sekarang berlumpur, motor saja tidak bisa lewat. Mobil jelas tidak mungkin,” kata Fakih.
Dampak paling terasa adalah terputusnya roda ekonomi dan aktivitas harian warga. Banyak yang terpaksa menghentikan pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang hanya bisa bertahan di rumah tanpa kepastian.
Situasi ini juga dirasakan para perantau yang tengah mudik Lebaran. Alih-alih kembali ke kota untuk bekerja, mereka justru tertahan di kampung halaman.
“Ada yang sudah pegang tiket kereta, tapi akhirnya hangus. Tidak bisa berangkat karena tidak ada akses keluar desa,” ungkap Fakih.
Sekretaris Desa Sangkanjaya, Abdul Mubarok, menyampaikan bahwa kondisi ini membuat sekitar 2.000 jiwa dari 450 kepala keluarga terdampak langsung. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, seiring terhentinya aktivitas ekonomi warga.
“Jembatan ini satu-satunya akses utama. Kalau putus, semua ikut lumpuh. Kami sangat berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan dan mencari solusi secepatnya,” ujarnya.