SEMARANG, Diswayjateng.com – Warga Kota Semarang segera bisa bernapas lebih lega. Polusi udara yang kerap muncul dari armada Bus Trans Semarang berbahan bakar diesel atau yang dikenal masyarakat sebagai “cumi-cumi darat” ditargetkan berkurang seiring rencana peralihan menuju bus listrik.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyiapkan langkah pasti untuk mengubah armada Trans Semarang yang selama ini menggunakan mesin konvensional menjadi kendaraan berbasis energi listrik yang ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menyatakan pihaknya mendukung penuh rekomendasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
Ia menegaskan Pemerintah Kota Semarang siap mengawal kebijakan serta menyiapkan regulasi guna mendukung pengoperasian bus listrik sebagai solusi transportasi perkotaan berkelanjutan.
“Tantangan transportasi kita saat ini cukup kompleks, mulai dari munculnya asap hitam pada armada yang sudah tua hingga ketidakpastian waktu kedatangan bus. Semua persoalan itu harus dijawab dengan pemanfaatan teknologi,” tegas Danang, Selasa, 10 Februari 2026.
Danang menuturkan, Dishub berkomitmen menjadikan transisi menuju transportasi rendah emisi sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang Kota Semarang.
Selain berdampak positif terhadap kualitas lingkungan, kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum.
Dishub Kota Semarang memaparkan sejumlah fokus strategis yang akan menjadi prioritas ke depan. Salah satunya ialah percepatan penyusunan dan pelaksanaan roadmap elektrifikasi armada, terutama pada koridor utama dengan tingkat keterisian penumpang tinggi.
“Koridor utama seperti Koridor 1 kami jadikan prioritas awal untuk menuju standar emisi yang lebih bersih melalui penggunaan kendaraan listrik,” jelas Danang.
Selain pengadaan armada, Dishub juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi halte. Audit dan perbaikan fisik halte dinilai penting, khususnya pada lokasi yang terdampak proyek betonisasi jalan, agar tetap ramah bagi seluruh pengguna, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Penguatan manajemen operasional turut menjadi perhatian. Dishub berencana menerapkan sistem pemantauan berbasis teknologi guna memastikan ketepatan waktu layanan. Upaya ini juga diiringi peningkatan standar keselamatan melalui pembinaan intensif bagi awak angkutan umum.
Aspek keselamatan menjadi salah satu isu krusial dalam diskusi tersebut. MTI menekankan pentingnya standarisasi teknis, terutama pada sistem baterai dan kelistrikan bus listrik.
Penekanan ini merujuk pada pengalaman operasional bus listrik di sejumlah kota yang lebih dulu mengadopsi teknologi serupa.
Dari sisi pembiayaan, Dishub Kota Semarang saat ini tengah mengkaji berbagai skema, mulai dari subsidi hingga kerja sama antara pemerintah daerah dan operator transportasi.
“Tujuan utama kami adalah memastikan layanan tetap berkelanjutan tanpa membebani operator lokal secara finansial,” ujar Danang.