Hingga Akhir Januari 2026, Hama Tikus Serang Tiga Kecamatan di Salatiga
GROPYOKAN TIKUS : Gabungan instansi dan kelompok masyarakat mengikuti gropyokan tikus di Tingkir Tengah Salatiga : Foto : Erna Yunus Basri--
SALATIGA, diswayjateng.com - Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga mencatat, hama tikus menyerang lahan pertanian tiga kecamatan di Kota Salatiga seluas 21 hektar. Seluruhnya berada di tiga Kecamatan di Kota Salatiga.
Hal ini diungkap Sekretaris Dispangtan Kota Salatiga, Inna Kartikasari, di Salatiga, Jumat 13 Februari 2026. Disampaikan Inna, total Luas Lahan Baku Sawah (LBS) yang ada di Kota Salatiga saat ini mencapai 515 hektar.
"Jadi, 21 hektar luas lahan pertanian yang diserang hama tikus ini 4% dari LBS di Kota Salatiga yakni 515 hektar," kata Inna Kartikasari.
Dan saat ini, Dispangtan Kota Salatiga masih berusaha untuk mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lahan pertanian, salah satunya hama tikus.
BACA JUGA: Lima Bulan Tak Mendapatkan Penghasilan, Petani Tambak Harapkan Ganti Rugi Pemkab Demak
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem, Wakil Ketua DPRD Batang Desak Bulog Percepat Serapan Gabah Petani
Ia menjabarkan, serangan OPT pada lahan pertanian sebenarnya tidak hanya hama tikus. OPD padi juga ditemui penggerek batang, WBC (Wereng Batang Coklat), walang sangit, xanthomonas, HPP (Hama Putih Palsu), dan burung.
"Luas lahan yang ditemukan seragam hama tikus itu 21 hektar dari seluruh luas lahan pertanian yang ada di Kota Salatiga. Dimana, wilayah Kecamatan Tingkir terluas mengalami serangan hama tikus," akunya.
Ketiga kecamatan yang diserang hama tikus di Salatiga masing-masing Kecamatan Tingkir seluas 15 hektar, Kecamatan Sidorejo seluas 5 hektar dan Kecamatan Sidomukti seluas 1 hektar.
Dispangtan Kota Salatiga pun bergerak cepat dalam pengendalian hama tikus Kota Salatiga.
BACA JUGA: Serangan Koloni Monyet Ekor Panjang Rugikan Petani Bandungan Ratusan Juta
BACA JUGA: GOW Salatiga Punya PR Besar, Nurhidayati : Belum Kantongi SK dan Segera Terdaftar di Kesbangpol
Dimana, intensitas kegiatan gerakan pengendalian hama tikus hingga tahun 2026 telah dilaksanakan sebanyak 3 kali.
Sejumlah titik gerakan pengendalian hama tikus yang telah dilakukan Dispangtan Kota Salatiga dengan melibatkan Kelompok Tani.
Diantaranya, bersama Kelompok Tani (Poktan) Al Barokah, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo.
"Kami juga menggandeng Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Hasil 1, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo serta, Kelompok Tani (Poktan) Sumber Agung dan Sumber Rejeki, Kecamatan Tingkir," paparnya.
BACA JUGA: Kredit Fiktif Bank Salatiga, Advokat Agung Pitra: Janggal, Harusnya Lebih dari 3 Orang Tersangkanya
BACA JUGA: Sungai Cenang Meluap, Ratusan Rumah dan Sekolah di Jatimulya Tegal Terendam Banjir
Dan, kegiatan gropyokan tikus di Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir pada Kamis 12 Februari 2026 lalu, diakuinya salah satu upaya Dispangtan Kota Salatiga dalam pengendalian hama tikus.
Dimana, kegiatan Gerdal (Gerakan Pengendalian) di Kelurahan Tingkir Tengah difokuskan pada pengamanan lahan guna memastikan kesiapan masa tanam padi yang akan segera dimulai.
Sebagai informasi, penanganan tikus dengan Gerdal merupakan pendekatan terpadu untuk mengatasi hama tikus sawah secara massal dan serentak.
Gerdal juga merupakan inisiatif kolaboratif yang menggabungkan berbagai metode untuk menekan populasi tikus.

Dispangtan Kota Salatiga juga mencatat, selama tahun 2025 tercatat sebanyak 33 permohonan bantuan rodentisida. Langkah ini, salah satu upaya menekan popularitas hama tikus.
BACA JUGA: Ke-dua Kalinya, Salatiga Raih UHC Award Bukti Komitmen Jaminan Kesehatan Warga
BACA JUGA: Polres Tegal Hadir Tengah Malam, Jaga Harapan Pengungsi Tanah Bergerak Padasari
Termasuk, penyaluran bantuan Rodentisida.
"Tahun 2025 kami telah menyalurkan sejumlah bahan pembasmi tikus kepada kelompok sebagai pemohon. Ada pun, rincian logistik yakni Racumin sebanyak 2.616 sachet yang bersumber dari APBD Kota Salatiga," sebutnya.
Inna menambahkan, Dispangtan Kota Salatiga juga berkoordinasi dengan Provinsi Jawa Tengah sehingga mendapatkan bantuan obat-obatan.
Diantaranya, Basmikus sebanyak 700 batang, Ratgon sebanyak 101 bungkus, Norat sebanyak 15 bungkus dan Brankus sebanyak 120 batang.
Didampingi Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POP) Arif Zaky Alwi (ASN Prov Jateng ditempatkan di Wilayah Salatiga) Inna juga menjelaskan, jika penyebab besarnya kehilangan hasil panen tidak hanya hama tikus. Sejumlah faktor juga menjadi penyumbang terjadi kehilangan hasil panen.
BACA JUGA: Bangun Jalan Pakai Iuran Sukarela, Wabup Grobogan Apresiasi Warga Bengkal
BACA JUGA: Perkuat Sinergi dengan Pers, Kajari Kota Tegal Dukung Puncak HPN dan HUT PWI ke-80
"Seperti, burung pipit yang diperparah oleh kondisi kurangnya kebersihan lahan, waktu tanam dan gerakan pengendalian yang tidak serempak dan pola tanam yang belum menggunakan sistem jajar legowo," imbuhnya.
Ia juga memberikan pencerahan, jika yang dimaksudkan gagal panen tidak hanya pada asumsi petani saja. Mengingat, ssumsi petani tentang gagal panen diakuinya, berbeda dengan ketentuan dari Kementerian Pertanian (Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor 127/HK.310/C/5/2021 tentang Petunjuk Teknis Pengamatan dan Pelaporan Organisme Pengganggu Tumbuhan serta Dampak Perubahan Iklim).
"Kategori puso yang disebabkan oleh hama dan penyakit yaitu bila tingkat serangan lebih dari 85% dari 1 (satu) hamparan tanaman padi. Dan untuk saat ini, Kota Salatiga belum kategori itu," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: