Ade menilai perbedaan itu dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah kelurahan.
“Semarang Barat memiliki 16 kelurahan, sementara Tugu jumlahnya jauh lebih sedikit. Itu berpengaruh pada intensitas laporan,” ujarnya.
Selain faktor geografis, kepadatan penduduk dan aktivitas masyarakat juga menjadi pemicu tingginya laporan darurat non kebakaran.
Di balik meningkatnya kepercayaan publik, tersimpan tantangan besar bagi Damkar Kota Semarang. Lonjakan laporan membuat petugas kerap kewalahan, terutama karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Saat ini, Damkar Kota Semarang baru memiliki satu unit mobil rescue standar dan satu unit kendaraan pick up untuk mendukung kebutuhan teknis di lapangan.
Kondisi tersebut dinilai belum sebanding dengan tingginya intensitas laporan yang masuk setiap hari.
“Meningkatnya laporan non kebakaran membuat kami membutuhkan dukungan sarana tambahan agar pelayanan tetap optimal,” pungkas Ade.
Damkar telah mengusulkan penambahan mobil rescue kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Wali Kota Semarang, sebagai langkah antisipasi agar pelayanan kepada masyarakat tetap cepat, aman, dan profesional.
Fenomena ini menandai perubahan cara pandang masyarakat terhadap Damkar. Bagi warga Semarang, Damkar kini bukan hanya pemadam api, tetapi simbol pertolongan pertama, tempat mengadu ketika situasi darurat datang tanpa aba-aba.
Di tengah keterbatasan sarana, petugas Damkar tetap menjawab kepercayaan itu dengan dedikasi. Sirene yang berbunyi hari ini mungkin tak lagi menuju kobaran api, tetapi menuju harapan warga yang membutuhkan bantuan.