Damkar Jadi Tempat Curhat Warga Semarang, Dari Cincin Nyangkut hingga ODGJ Tercebur Sumur
Sekretaris Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mengatakan selama 2025 Damkar Kota Semarang menangani 1.913 kasus non pemadaman. -Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com – Ketika api tak menyala, sirene Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang justru semakin sering terdengar. Bukan karena kebakaran, melainkan panggilan darurat lain yang kian beragam seperti cincin tersangkut di jari, resleting menjepit kulit, kunci jatuh ke selokan, hingga penyelamatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tercebur ke sumur.
Fenomena warga yang lebih memilih melapor ke Damkar untuk berbagai persoalan darurat kini bukan sekadar tren media sosial. Sepanjang tahun 2025, kondisi itu telah menjadi realitas lapangan yang berdampak langsung pada meningkatnya beban kerja petugas Damkar Kota Semarang.
Data resmi mencatat, selama 2025 Damkar Kota Semarang menangani 1.913 kasus non pemadaman. Dari jumlah tersebut, 1.693 kasus berupa kegiatan penyelamatan (rescue), sementara 220 kasus lainnya adalah penyemprotan dalam berbagai situasi darurat.
Angka itu menunjukkan tren kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2023, Damkar Semarang mencatat 1.103 penanganan non kebakaran, meningkat menjadi 1.389 kasus pada 2024, dan kembali melonjak tajam pada 2025.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, menilai lonjakan laporan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Damkar.
Menurut Ade, warga kini tak lagi ragu meminta bantuan, bahkan untuk persoalan yang sebelumnya tidak identik dengan tugas pemadam kebakaran.
“Kepercayaan masyarakat meningkat. Mereka merasa Damkar bisa membantu berbagai kondisi darurat,” ujar Ade kepada Diswayjateng.id saat ditemui di kantornya Jumat, 2 Januari 2026.
Kepercayaan itu tumbuh dari pengalaman langsung warga yang merasakan respons cepat dan solusi nyata dari petugas Damkar. Bahkan, kasus-kasus sederhana sekalipun ditangani dengan pendekatan profesional dan humanis.
Salah satu peristiwa yang sempat menyita perhatian publik adalah insiden mata pancing yang tersangkut di jari, yang dialami langsung oleh Kepala Dinas Damkar Kota Semarang, Sih Rianung. Kejadian tersebut menjadi bukti bahwa situasi darurat bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang jabatan.
Ragam laporan non kebakaran yang ditangani Damkar sepanjang 2025 terbilang unik dan beragam. Mulai dari cincin tersangkut di jari maupun kelamin, jari terjepit resleting, kunci jatuh ke saluran air, hingga membantu pengambilan rapor siswa di sekolah yang terkunci.
Ada pula laporan terkait kursi terbalik yang membahayakan keselamatan, serta berbagai kejadian teknis lain yang membutuhkan penanganan cepat dan alat khusus.
Salah satu kasus serius terjadi di wilayah Semarang Barat, ketika seorang ODGJ tercebur ke dalam sumur. Beruntung, kondisi air yang dangkal membuat korban dapat diselamatkan.
“Airnya dangkal sehingga korban bisa diselamatkan. Saat kondisi darurat, yang bersangkutan sadar dan sempat berteriak meminta tolong,” jelas Ade.
Kejadian-kejadian semacam ini memperlihatkan bahwa Damkar kini berperan sebagai garda terdepan layanan darurat masyarakat, bukan semata pemadam api.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

