Inovasi RECULA Undip Ubah Sampah Jadi Energi Sirkular

Inovasi RECULA Undip Ubah Sampah Jadi Energi Sirkular

INOVASI - Lewat inovasi RECULA, limbah disulap menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi.--

SEMARANG, diswayjateng.id - Tumpukan sampah perkotaan kini tak lagi sekadar masalah lingkungan. Lewat inovasi RECULA, limbah disulap menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi.

Gagasan solutif ini dikembangkan oleh lima mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip). Mereka merancang sistem kawasan pengolahan sampah terintegrasi menggunakan pendekatan ekonomi sirkular.

Inisiatif tersebut dirancang sebagai tahapan menuju kemandirian energi Indonesia 2045. Saat ini, dukungan luas mulai mengalir dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah.

Tantangan pengelolaan limbah di kawasan perkotaan menuntut penyelesaian yang komprehensif, bukan sekadar penanganan di hilir (pembuangan akhir). Menjawab kebutuhan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) Undip memperkenalkan RECULA.

Nama RECULA sendiri diambil dari filosofi dua bahasa. Pertama, kata reculer dari bahasa Prancis yang berarti "mundur", dimaknai sebagai langkah mengembalikan kondisi lingkungan yang rusak menjadi lebih baik. Kedua, recovery dari bahasa Inggris yang merepresentasikan upaya memulihkan lingkungan melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.

Tim pengembang gagasan ini beranggotakan lima mahasiswa lintas fakultas dengan didampingi oleh dosen Yohanes Thianika Budiarsa, S.I.Kom., MGMC. Formasi tim tersebut meliputi:

  • Naurah Safa Labibah (Ketua - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi)
  • Muhammad Rafly Andika Putra (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi)
  • Aulia Keyla Chairunissa (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi)
  • Faishal Rahman Irawan (Fakultas Teknik Lingkungan)
  • Loisa Margaret Ambarita (Fakultas Sains dan Matematika, Kimia)

Meraih Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah

Untuk merealisasikan dan menyempurnakan gagasan ini, tim RECULA aktif melakukan audiensi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Tujuannya adalah memperoleh masukan kritis sekaligus menjajaki peluang penerapan konsep ekonomi sirkular dan valorisasi tersebut di lapangan.

Respons positif salah satunya datang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang. Alridho Deska Briandoko, selaku perwakilan dinas, menilai RECULA menawarkan pendekatan yang sangat solutif. Ia memandang gagasan ini tidak hanya berfokus menyelesaikan urusan limbah di hilir, tetapi juga memberi manfaat dari sisi sosial dan potensi ekonomi.

"Inovasi ini sangat berpotensi memberikan manfaat luas sekaligus menjadi instrumen edukasi yang menginspirasi masyarakat," ujar Alridho. Ia berharap konsep ini dapat memiliki daya tarik agar warga Semarang lebih aktif melakukan pemilahan dari sumbernya, sehingga tercipta ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mandiri.

Di tingkat provinsi, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Pertama DLH Jawa Tengah, Krisandi AP, memuji kecanggihan regulasi dan desain mesin RECULA. Sistem ini dinilai sangat ideal untuk perkotaan dan potensial untuk kolaborasi industri. Meski begitu, Krisandi memberikan catatan bahwa penerapan di lokasi lain tetap membutuhkan penyesuaian khusus dan kesiapan sumber daya manusia yang memadai.

Sejalan dengan Konversi Energi Nasional

Sistem pengelolaan dari hulu ke hilir ini juga dinilai selaras dengan regulasi dan target nasional. Perwakilan UPTD TPA Jatibarang, Arya Bimasakti, mengungkapkan bahwa RECULA sejalan dengan kebijakan pengurangan volume sampah ke TPA yang saat ini ditekan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Tidak hanya itu, pendekatan ekonomi sirkular yang diusung mahasiswa Undip ini turut mendukung target Peraturan Presiden (Perpres) No. 109/2025 yang menitikberatkan pada konversi sampah menjadi energi.

Dampak Ekonomi untuk Warga dan Potensi Lapangan Kerja

Selain menyasar perbaikan sistem energi kota, inisiatif ini sangat menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat akar rumput.

Ketua RT 04 RW 05 Kelurahan Kedungpane, Riana Susi Susana, menyambut antusias program ini karena edukasi pemilahan limbah berpotensi memiliki nilai ekonomis yang bisa menambah kas RT. Hal ini diamini oleh Lurah Kedungpane, Ananta Budhi Baktiar, yang sangat berharap sistem pengolahan limbah ini dapat segera diimplementasikan secara nyata.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait