IBI Kabupaten Tegal Gencarkan Aksi Turunkan AKI dan AKB, Bidan Desa Jadi Garda Terdepan
KAMPANYE - Sejumlah anggota IBI Kabupaten Tegal mengikuti acara kampanye TOSS TB di Kawasan Alun-alun Hanggawana Slawi,.Foto: Yeri Noveli/diswayjateng.id--
SLAWI, diswayjateng.id – Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Tegal menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), termasuk menekan angka stunting dan kematian balita di wilayah setempat.
Upaya itu dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan kebidanan, pemantauan kehamilan secara rutin, hingga pendampingan pascapersalinan.

Ketua IBI Kabupaten Tegal, R. Siti Iva Rifda Chomsiyah, mengatakan, angka kematian ibu dan bayi tahun 2025 ini masih dalam proses pendataan. Namun, dari data sementara hingga November 2025, tercatat sekitar 8 kasus kematian ibu, turun dari tahun 2024 yang mencapai 13 kasus.
“Alhamdulillah ada penurunan. Ini tidak lepas dari kerja keras para bidan di desa dan tenaga kesehatan di puskesmas yang terus memantau ibu hamil berisiko tinggi sejak awal kehamilan hingga masa nifas,” ujar Iva saat menghadiri kegiatan kampanye TOSS-TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh – Tuberkulosis) di Alun-alun Hanggawana Slawi.
BACA JUGA:IBI Kabupaten Tegal Kampanyekan TOSS-TBC dan Gaungkan Program Bidan Delima di HKN 2025
BACA JUGA:45 Bidan di Kabupaten Tegal Ikuti Pelatihan KB Pasca Persalinan
Acara yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal itu sekaligus memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61. Momentum tersebut dimanfaatkan IBI Kabupaten Tegal untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya upaya menekan AKI dan AKB melalui pelayanan kebidanan yang berkualitas.
Menurut Iva, IBI bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal telah melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya skrining usia dan kondisi kesehatan ibu, pemantauan ibu hamil risiko tinggi, dan monitoring berkelanjutan dari masa kehamilan, persalinan, hingga bayi berusia 40 hari.
“Setiap bidan di desa dan puskesmas rutin melakukan pemeriksaan kehamilan minimal empat kali (ANC), sesuai standar 10T. Kami juga memastikan persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih agar komplikasi dapat dicegah sejak dini,” jelasnya.
Selain itu, Iva menekankan pentingnya asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care) yang mencakup pemeriksaan nifas, perawatan bayi baru lahir, serta penerapan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Langkah-langkah tersebut terbukti efektif mengurangi risiko kematian ibu dan bayi akibat keterlambatan penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, dr. Ruszaeni, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi peran bidan sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak.
Menurutnya, kolaborasi antara bidan, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Tegal.
“Pemerintah daerah bersama IBI terus memperkuat jejaring pelayanan kesehatan, terutama di tingkat desa. Kami dorong agar seluruh ibu hamil mendapatkan pemeriksaan teratur dan melahirkan di fasilitas kesehatan yang aman,” tutur Ruszaeni.
Upaya menurunkan AKI dan AKB, juga sejalan dengan target nasional untuk menurunkan angka kematian ibu hingga di bawah 183 per 100 ribu kelahiran hidup dan kematian bayi di bawah 12 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun-tahun mendatang.
“Keselamatan ibu dan bayi adalah prioritas utama. Kami ingin setiap persalinan di Kabupaten Tegal menjadi aman, sehat, dan membahagiakan,” pungkasnya. (adv)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
