Kisah Inklusi TBIG, Ketika Pelajar Tuna Wicara Bersuara lewat Batik Cap Pekalongan
Seorang pekerja batik cap khas Pekalongan milik Latifah, Rabu 14 Mei 2025--Bakti Buwono/diswayjateng.id
PEKALONGAN, diswayjateng.id - Di tengah wangi malam yang menguar, tangan Fandi (18) menari di atas katun putih tanpa suara dan kata-kata.
Fandi tampak fokus bekerja dalam bengkel kerja Rumah Batik Tower Bersama Group (TBIG), Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Tangan kirinya memegang kain agar tidak bergeser. Tangan kanannya memegang canting motif batik dari kayu yang baru saja dicelupkan ke cairan malam (lilin).
Dengan cekatan, Fandi menempelkan canting cap berukuran 16cm x 16cm itu ke katun putih.
BACA JUGA: Pewarna Alami dan IPAL Rumah Batik TBIG, Jurus Rahasia Lawan Limbah di Pekalongan
BACA JUGA: Koperasi Bangun Bersama Jadi Jantung Ekonomi Rumah Batik TBIG Pekalongan, Biayai Ratusan Pembatik
Pola itu dilakukan berulang hingga sedikit demi sedikit kain katun putih itu jadi batik.
Ia tak berbicara, namun setiap goresan canting cap menyuarakan cita-citanya menjadi bos batik pada suatu saat nanti.
Tidak lama, Fandi berhenti, menghadap temannya yang bernama Zaki (18). Menggunakan bahasa isyarat, Fandi memanggil Zaki untuk bergantian membatik cap
Fandi, pelajar tuna wicara dari SLB Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, tak sendiri.
BACA JUGA: 16 Wartawan dan Mahasiswa Terpilih Ikuti Journalism Fellowship on CSR 2025, Termasuk Disway Jateng
BACA JUGA: Ketua Dewan Pers Buka Journalism Fellowship on CSR 2025, Ini Pesannya
Bersama Zaki dan lima temannya, ia menjadi bagian dari inisiatif CSR TBIG dalam memberdayakan penyandang disabilitas melalui pelatihan membatik.
“Senang bisa membatik di sini, sekalian bisa main juga,” ujar Fandi lewat bahasa isyarat, dibantu seorang penerjemah, Selasa 12 Mei 2025 lalu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
