3 Tantangan Moderasi Beragama, Apa Saja Itu?

3 Tantangan Moderasi Beragama, Apa Saja Itu?

FOTO BERSAMA - Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Arskal Salim foto bersama dalam seminar.Foto: Istimewa --

DISWAYJATENG, TEGAL - Terdapat tiga tantangan dalam moderasi beragama. Pertama, tantangan kemanusiaan, yakni berkembangnya cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem), yang mengesampingkan martabat kemanusiaan. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Arskal Salim, dalam kegiatan Seminar Penguatan Moderasi beragama Bagi Guru SMA dan SMK.

"Kedua, tantangan keagamaan, yakni berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik yang berpotensi memicu konflik," ucapnya.

BACA JUGA:Puluhan Orang Tua dan Wali Murid di Kota Tegal Datangi Posko PPDB

Lebih lanjut, Arskal mengutarakan tantangan ketiga, yakni tantangan kebangsaan, yaitu berkembangnya semangat yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI. "Penanggulangannya adalah dengan merawat keindonesiaan," tutur Sesban.

"Kita perlu mengadakan penguatan moderasi beragama untuk mencegah generasi muda agar terhindar dari paham-paham ekstrem yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila. Moderasi beragama dalam mengejawantahkan esensi ajaran agama akan melindungi pemeluk agama. Landasannya adalah prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa,” ungkap Arskal.

BACA JUGA:DP3AP2KB Gandeng SMA Negeri 3 Slawi

Lebih lanjut, Arskal mengatakan bahwa penguatan moderasi beragama tidak hanya dilakukan pada guru di lingkungan Kementerian Pendidikan, tetapi tahun lalu juga telah dilakukan penguatan moderasi bagi guru di lingkungan Kementerian Agama.

“Penguatan moderasi beragama bagi guru sangat penting, karena guru adalah panutan murid di sekolah,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikpora DI Yogyakarta Dr Didik Wardaya mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi kami, karena DI Yogyakarta merupakan salah satu daerah pendidikan yang dapat dijadikan contoh dalam pengembangan kehidupan beragama di lingkungan sekolah.

"Pendidikan memberikan pencerahan tentang pengembangan moderasi beragama, terutama di lingkungan sekolah. Guru yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menerapkannya di sekolah, sehingga menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif," ungkap Didik.

BACA JUGA:Karawitan Lembah Manah Warnai Prosesi Kirab Pataka Kabupaten Tegal

"Peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan berperan serta dalam mensosialisasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada seluruh warga sekolah, sehingga suasana di sekolah mencerminkan kehidupan moderasi beragama, terutama dalam konteks pendidikan," harap Didik.

Kepala Balai Litbang Agama Semarang H Moch Muhaemin SAg MM, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan penguatan moderasi beragama kepada guru-guru SMA dan SMK di DI Yogyakarta. Acara penguatan moderasi beragama tersebut dihelat oleh Balai Litbang Agama Semarang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Yogyakarta.

BACA JUGA:UPS Tegal Terus Perluas Jangkauan Dunia Internasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: