Tradisi Basuh Kaki, Momen Haru yang Menutup MPLS di SD Pakintelan

Tradisi Basuh Kaki, Momen Haru yang Menutup MPLS di SD Pakintelan

Momen haru mewarnai penutupan MPLS di SD Negeri Pakintelan 01 Semarang.-Dok.-Wahyu Sulistiyawan

Makna simbolik di balik penggunaan air dan bunga juga dijelaskan oleh pihak sekolah. 

"Supaya di dalam melaksanakan basuh kaki, di dalam doa itu supaya doanya terkabul, supaya lebih sakral lagi di dalam meminta doa restu kepada orang tuanya," katanya. 

Bunga mawar dipilih sebagai simbol kesucian doa dan penghormatan kepada orang tua. 

"Yang mempersiapkan dari sekolahan semuanya. Baskomnya, airnya, kemudian ada bunganya supaya lebih sakral lagi," ujar Siti. 

 

Tradisi tersebut kini telah menjadi bagian dari identitas sekolah setiap kali MPLS dilaksanakan. 

 

"Setiap tahun SD kami melaksanakan kegiatan basuh kaki. Selama saya di sini berarti sudah tiga tahunan," tambah Siti. 

 

Pendidikan Karakter Dimulai Sejak Hari Pertama 

Prosesi basuh kaki dinilai bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang diperkenalkan sejak anak pertama kali mengenal lingkungan sekolah. 

Melalui kegiatan tersebut, rasa hormat kepada orang tua, sikap rendah hati, serta pentingnya meminta restu sebelum belajar ditanamkan kepada peserta didik.

Nilai-nilai tersebut diharapkan terus terbawa hingga anak menyelesaikan pendidikan dasar. 

 

MPLS Tidak Hanya Mengenalkan Sekolah 

 

Selama lima hari pelaksanaan MPLS, berbagai kegiatan telah diberikan kepada peserta didik baru.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait