Banjir di Kudus Surut, Warga Pulang ke Rumah dari Posko Pengungsian
Relawan mengantar kepulangan warga yang tinggal di lokasi pengungsian kembali ke rumah masing-masing. --
Ia mengungkapkan, keinginan warga untuk pulang dipicu rasa jenuh tinggal di pengungsian meskipun kondisi rumah belum sepenuhnya kering.
"Warga merasa lebih nyaman di rumah sendiri. Tapi kami tetap mengingatkan agar waspada karena kemungkinan hujan masih ada,” ucap Sam’ani.
Terkait kondisi cuaca, Sam’ani menyebut intensitas hujan mulai menurun meski wilayah hulu masih diguyur hujan ringan.
“Aliran dari Sungai Piji, Logung, Dawe, dan Gayam masih mempengaruhi genangan karena tertahan di tanggul dan kolam retensi,” paparnya. 
Pemkab Kudus tetap menyiagakan aparat dan posko pengungsian hadapi banjir susulan--
Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kudus Ahmad Munaji menyampaikan, terdapat 15 posko pengungsian yang masih beroperasi.
Bekasan posko penngusian berasa di Balai Desa Gulang, Balai Desa Karangrowo, Gedung Muslimat NU Loram Kulon, Aula DPRD Kudus, hingga Balai Desa Jati Wetan.
Ia menambahkan, total pengungsi yang masih tercatat sebanyak 742 jiwa dari 284 kepala keluarga.
“Pengungsi terdiri dari bayi, balita, anak-anak, dewasa, sampai lansia. Kelompok rentan tetap menjadi prioritas penanganan,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Desa Jetiskapuan, Sudirno, menyebut jumlah pengungsi yang tersentral di Posko NU Muslimat Loram Kulon mencapai 453 jiwa.
“Yang terdata dan tersentral di Gedung Muslimat NU Loram Kulon ada 453 jiwa. Tapi ada juga warga yang mengungsi mandiri ke rumah saudara,” katanya.
Menurut Sudirno, sebagian warga memilih mengungsi ke desa tetangga seperti Loram Wetan, Jepang Pakis, dan Megawon.
“Untuk warga yang mengungsi ke luar desa, pemerintah setempat sudah melaporkan ke kecamatan sehingga kebutuhan logistik tetap tercukupi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: