Perjalanan selepas tengah malam itu bukanlah pelesiran turis. Bagi Sarmidi dan ABK-nya, adalah misi mulia tentang penyaluran energi yang panjang. Sebab memakan waktu hingga tiga hari dua malam.
“InsyaAllah besok sekitar jam setengah sembilan pagi kita sampai Karimunjawa,” ujar Sarmidi saat perjalanan menuju The Paradise of Java itu memasuki waktu Shubuh, Kamis (15/10/2026).
Kami pun baru menempuh seperempat waktu perjalanan, di mana langit masih terlihat gelap gulita. Angin musim timur juga belum berubah. Tetap berhembus kencang, sehingga ombak masih terasa kuat mengguncang awak kapal.
Sejumlah buruh sedang memuat tabung berisi elpiji subsidi ke dalam KM Berkah di Pelabuhan Syahbandar, Kabupaten Jepara, Rabu sore (14/10/2026).--
BACA JUGA: Hujan Deras Picu Longsor di Argosari Kebumen, Dua Rumah Warga Rusak
BACA JUGA: Hendak Cari Rumput, Pria asal Pati Ditemukan Meninggal Dunia di Persawahan Jekulo Kudus
Saya lantas rebahan kembali di atas dek kapal di belakang kursi kemudi, sesekali sambil menatap layar smartphone di tengah timbul tenggelamnya sinyal internet.
Tanpa sadar, mataku terpejam lagi. Padahal, baju lengan panjang yang saya kenakan basah oleh keringat sebab pengapnya udara di dalam kapal. Posisi badanku juga tidak bisa diam dengan tenang. Berguling ke kanan dan ke kiri, mengikuti irama ombak yang setiap detik menerjang bodi kapal.
Dan saat saya terbangun, ternyata di luar sudah terang benderang. Sinar mentari terlihat menerobos melalui celah-celah dinding kapal bagian kanan, menambah suasana pada pagi itu semakin hangat.
Puji syukur, sejam kemudian kami sampai di Pulau Karimunjawa. Seusai kapal bersandar, buruh angkut dermaga langsung bongkar muat tabung berisi elpiji subsidi dari kapal ke kendaraan-kendaraan milik lima pangkalan resmi setempat.
Salah satu sopir dari PT Sendang Harto Mandiri memuat tabung kosong elpiji subsidi ke atas truk di Pelabuhan Syahbandar, Kabupaten Jepara, Rabu sore (14/10/2026).--
BACA JUGA: Pura-pura Ajak Nginap di Hotel Juwana Pati, Pria Asal Batangan Gasak Motor Teman Wanita saat Mandi
BACA JUGA: Polresta Pati Gulung Komplotan Curanmor Rumah Sakit
Setelah itu, kapal bersiap kembali untuk menerjang ombak tinggi menuju Pulau Parang—sebuah titik terpencil di mana nyala api biru dapur warga sepenuhnya bergantung pada raungan mesin kapal tua itu.
Alhamdulillah, Kamis (15/10/2026), sekitar pukul 13.30 WIB, kami tiba dengan selamat di Pulau Parang, bersandar di dermaga barat. Satu kapal kecil nelayan dari pangkalan resmi Pulau Nyamuk sudah tampak menanti dengan penuh harapan.
“Karena sekarang musim angin timur, kapal bersandar di dermaga barat. Begitu sebaliknya, ketika musim angin barat, kapal biasanya bersandar di dermaga timur,” terang Sarmidi.