Green Batik Center Dibuka, Belanda Ingatkan Masa Depan Batik Pekalongan

Jumat 23-10-2026,22:38 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : M. Fatkhurohman

Tradisi Batik Belanda sendiri, lanjut Gerritsen, telah berkembang lebih dari 140 tahun lalu. Motif yang dikenakannya menjadi pengingat hubungan budaya tersebut.

“Saya bangga mengenakan batik ini karena menghubungkan Belanda dan Indonesia, khususnya dengan Pekalongan,” katanya.

Hubungan sejarah itu kini mendapat konteks baru. Jika dahulu batik menjadi ruang pertemuan budaya, sekarang kerja sama juga menyasar keberlanjutan lingkungan.

Tantangannya adalah memastikan warisan tersebut tidak hanya bertahan melalui motif dan keterampilan. Proses produksinya juga perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungan.

 

Bukan sekadar membangun instalasi

Rektor Unikal, Assoc. Prof. Dr. Andi Kushermanto, S.E., M.M., menegaskan bahwa program tersebut tidak boleh berhenti sebagai proyek kerja sama.

Menurut Andi, konsorsium telah menghasilkan sejumlah keluaran, termasuk pendampingan industri hijau dan pembangunan mini instalasi pengolahan air limbah.

Sebanyak 10 pelaku usaha batik menjadi percontohan atau batik champions. Mereka memperoleh pendampingan untuk memperbaiki pengelolaan air limbah melalui pembangunan maupun revitalisasi fasilitas.

“Yang kami bangun bukan mini IPAL-nya, tetapi kesadaran dan mindset betapa pentingnya batik bagi industri kreatif ekonomi di Pekalongan, sekaligus bagaimana meminimalkan persoalan limbah,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan industri tidak selesai hanya dengan memasang teknologi. Pelaku usaha juga perlu memahami tanggung jawab lingkungan dalam kegiatan produksinya.

Andi berharap Green Batik Center menjadi tempat pengusaha berkonsultasi mengenai pengolahan limbah dan penerapan prinsip industri hijau. Pusat tersebut juga disiapkan untuk membantu pelaku usaha memahami tahapan menuju sertifikasi industri hijau.

Unikal berperan sebagai mitra konsorsium, terutama melalui pendidikan, penelitian, pengujian laboratorium, dan pendampingan pelaku industri. Sementara itu, mitra dari Belanda membawa keahlian dalam pengelolaan air dan pengembangan teknologi pengolahan.

“Era sekarang adalah era kolaborasi. Tidak bisa kita berjalan sendiri,” kata Andi.

 

Dari limbah menuju penggunaan kembali air

Dosen sekaligus tim teknis Green Batik Pekalongan Project dari Unikal, Maghfiroh, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa kondisi awal sejumlah usaha masih memerlukan pembenahan.

Sebagian pelaku usaha belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah. Beberapa lainnya sudah memiliki fasilitas bantuan pemerintah, tetapi kondisinya tidak terawat.

Kategori :