Batik Tak Cukup Dilestarikan, Mata Perajin Pekalongan dan Penerusnya Perlu Dijaga

Batik Tak Cukup Dilestarikan, Mata Perajin Pekalongan dan Penerusnya Perlu Dijaga

Pemeriksaan mata dan bantuan kacamata gratis untuk perajin dan mahasiswa Prodi Kriya Batik Unikal, Kamis 15 Oktober 2026-Disway Jateng/ Bakti Buwono -

PEKALONGAN, diswayjateng.id – Membuat batik bukan sekadar menggambar motif di atas kain. Ketelitian mata menjadi kunci ketika canting harus menorehkan malam untuk membentuk garis dan isen-isen berukuran kecil.

Bagi Muawanah, 55, perajin batik asal Tirto, Kabupaten Pekalongan, penglihatan yang mulai kurang nyaman bisa memengaruhi pekerjaannya. Apalagi, ia sudah menekuni dunia membatik sejak berusia sekitar 15 tahun.

“Alhamdulillah, ini dapat periksa mata. Sebelumnya saya sempat pakai kacamata, tetapi sudah lama tidak,” ungkap Muawanah di Gedug C Unikal, Kamis 15 Oktober 2026.

Ia terbiasa mengerjakan bagian isen-isen atau mengisi detail kecil pada motif batik. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi agar setiap unsur motif terlihat rapi.

BACA JUGA: 11 Mesin Kapal Baru dan Keterampilan Servis untuk Nelayan Roban Barat Batang

BACA JUGA: Viral Warga Pekalongan Tak Bisa Pulang dari Dubai, LBH dan DPR RI Ini Langsung Koordinasi dengan KJRI

“Kadang burem, kadang enggak kalau capek. Makanya dapat kacamata ini sangat terbantu,” tuturnya.

Pengalaman Muawanah memperlihatkan bahwa pelestarian batik tidak hanya berkaitan dengan motif, kain, atau keterampilan membatik. Kesehatan mata para perajin juga menjadi bagian penting yang patut diperhatikan.

Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober pun dapat menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Terlebih, Hari Penglihatan Sedunia pada 2026 jatuh pada 8 Oktober, sehingga perhatian terhadap kesehatan mata relevan dengan kebutuhan para pelaku industri batik.

BACA JUGA: Pantura Batang-Pekalongan-Pemalang Dicor sampai 2027, Gaspol di Musim Kemarau

BACA JUGA: Kepala MAN IC Pekalongan Berganti, Walikota Aaf Minta Prestasi Nasional Tetap Jalan

Kebutuhan itu turut dirasakan Trias Intan Pandini, mahasiswa semester enam Program Studi Kriya Batik Universitas Pekalongan (Unikal).

Dalam pemeriksaan mata gratis, ia mengetahui ukuran minus matanya meningkat dari 0,75 menjadi 1,75. Pemeriksaan tersebut membuatnya menyadari perubahan penglihatan yang sebelumnya belum diketahui.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait