Hari Batik Nasional, UMKM Purworejo Angkat Motif Lokal dari Durian hingga Kesenian Dolalak
Batik khas Purworejo dikembangkan dengan mengangkat kekayaan alam dan budaya lokal, seperti durian, manggis, clorot hingga kesenian Dolalak.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
PURWOREJO, diswayjateng.id – Kekayaan alam dan budaya Kabupaten Purworejo terus menjadi sumber inspirasi bagi para perajin batik untuk menciptakan motif yang memiliki identitas khas daerah. Mulai dari durian, manggis, clorot, bedug, kambing etawa, geblek hingga kesenian Dolalak, berbagai potensi lokal tersebut dituangkan dalam karya batik yang dikembangkan oleh pelaku UMKM.
Pengembangan batik berbasis kearifan lokal ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin. Saat ini, sekitar 15 UMKM di Kabupaten Purworejo bergerak dalam bidang batik dengan karakteristik dan produk yang beragam.
Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (DinKUKMP) Kabupaten Purworejo, Rimi Anik, mengatakan para pelaku UMKM terus didorong untuk mempertahankan ciri khas batik daerah sekaligus mengembangkan desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Sejumlah UMKM yang mengembangkan batik di Purworejo antara lain Rafba Batik, Dewa Loano, Arimbi, Ngasto Tirto, Wirasatya, Ganung, Hesti Kemiri, Srikandi Keki, Totok, Naraya, Ganjar Batik, Jasid Bustomi, Sundari/Ekoprin, serta Sunggi Lastra Guyangan Handayani. Ada pula perajin Batik Ciprat Loano dan Tridadi Loano.
BACA JUGA: Bendung Boro Dikeruk, 1.000 Meter Kubik Sedimentasi Diangkat untuk Jaga Pasokan Air Purworejo
BACA JUGA: Kebakaran Hutan Perhutani Buayan Kebumen, 1 Hektare Lahan Terbakar
Rimi menyebut, salah satu batik yang telah menjadi identitas daerah adalah Batik Keprajuritan. Batik tersebut digunakan sebagai pakaian dinas pada Kamis minggu pertama. Selain itu, motif batik Purworejo juga mengangkat berbagai potensi alam dan kekayaan lokal.
"Purworejo memiliki batik khas, salah satunya Batik Keprajuritan. Motifnya juga mengangkat potensi lokal, seperti manggis dan berbagai kekayaan daerah lainnya," ungkap Rimi, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, pengenalan batik lokal dilakukan melalui beragam kegiatan, seperti pameran dan karnaval. Ajang tersebut tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan produk, tetapi juga memberikan ruang bagi para perajin untuk memperluas jaringan dan menjangkau konsumen lebih luas.
Pemkab Purworejo melalui DinKUKMP juga memberikan dukungan peningkatan kapasitas UMKM. Salah satunya dengan menggelar pelatihan Inovasi Batik Printing Malam untuk Mempercepat Produksi Tanpa Kehilangan Karakteristik Batik pada 19 September 2026 di Arpusda Kutoarjo.
BACA JUGA: Berawal dari Daun di Kebun dan Semak, 3 Siswa SMAN 7 Purworejo Raih Emas di Malaysia
BACA JUGA: Kasus Gangguan Kesehatan MBG Bermunculan, Komisi IV DPRD Purworejo Soroti Standar Dapur SPPG
Sementara itu, Penata Layanan Operasional sekaligus Konsultan Bidang Produksi UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Purworejo, Supriyanto Ari Widodo, menjelaskan bahwa pengembangan motif lokal menjadi bagian penting dalam membangun identitas produk batik Purworejo. Ia menyebut, para perajin banyak mengambil inspirasi dari hasil bumi dan kekhasan daerah untuk dituangkan dalam bentuk visual pada kain batik.
"Para pengrajin batik di Purworejo kebanyakan membuat identitas dengan kearifan lokal berupa visualisasi hasil bumi Purworejo. Di antaranya motif durian, manggis, kue clorot, bedug, kambing etawa, geblek, dan sebagainya," jelas Supriyanto.
Selain kekayaan alam, unsur budaya seperti kesenian Dolalak juga menjadi inspirasi. Motif tersebut dapat dikombinasikan dengan unsur lain, termasuk buah-buahan, sehingga menghasilkan desain yang lebih variatif dan memiliki nilai kreativitas.
Supriyanto mengatakan, UPT PLUT KUMKM secara berkala memfasilitasi pelatihan desain bagi pelaku UMKM. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan perajin dalam menciptakan motif kontemporer tanpa meninggalkan karakter lokal.
BACA JUGA: Sengketa Tanah Banyuasin Kembaran Purworejo, Keluarga Persoalkan Riwayat Sertifikat
BACA JUGA: Kapolres Purworejo Ingatkan 750 Pelajar soal Modus Penipuan Online hingga Pinjol Ilegal
"Untuk pengembangan dan inovasi, kami di UPT PLUT KUMKM terus mendorong bagaimana pelaku UMKM kreatif dan inovatif ketika membuat desain, motif, dan pola. Kami juga sering melakukan pelatihan desain supaya identitas dan kreativitas mereka berkembang menjadi motif batik kontemporer yang bisa dikombinasikan dengan fesyen lainnya," katanya.
Upaya pengembangan batik juga diarahkan pada perluasan pemasaran. UPT PLUT KUMKM memfasilitasi kemitraan antara pelaku UMKM dengan sejumlah pihak atau offtaker. Beberapa produk UMKM Purworejo, termasuk batik, telah dipasarkan melalui kerja sama dengan Hotel Morazen dan Novotel.
"Beberapa produk UMKM sudah kami mitrakan dengan sejumlah pihak atau offtaker. Di antaranya Hotel Morazen dan Novotel. Produk-produk tersebut sudah dipajang di hotel sehingga membuka peluang pemasaran yang lebih luas," terangnya.
Di samping kemitraan, pameran dan ekspo juga menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan batik Purworejo kepada masyarakat di luar daerah. Melalui berbagai saluran tersebut, produk perajin diharapkan semakin dikenal dan memiliki akses pasar yang lebih luas.
BACA JUGA: Porprov Jateng 2026 Makin Dekat, Demak Kebut Persiapan Venue hingga Pengamanan
BACA JUGA: Atasi Krisis Air Saat Kemarau, Polres Demak Tambah Sumur Bor di Ngaluran
Dari segi teknik, batik Purworejo diproduksi melalui beragam metode, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Perbedaan teknik, tingkat kerumitan motif, dan kualitas bahan menjadi faktor yang menentukan harga jual.
Supriyanto mencontohkan, batik tulis Purworejo yang pernah digunakan sebagai seragam harian pegawai UPT PLUT KUMKM dibanderol sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000 per potong.
"Kalau untuk batik tulis Purworejo, kami di UPT PLUT pernah menggunakan sebagai seragam harian. Untuk satu potong sekitar Rp200.000 sampai Rp250.000," ujarnya.
Sementara itu, batik dengan pengerjaan khusus dapat mencapai harga Rp500.000 hingga lebih dari Rp1 juta, bergantung pada bahan, kerumitan desain, dan proses pembuatannya. Variasi harga tersebut memberikan pilihan bagi konsumen dari berbagai kalangan.
BACA JUGA: Polisi Tangkap Dua Terduga Pelaku Pembacokan di Depan Kampus di Salatiga
BACA JUGA: 24 Siswa Keluhkan Makanan MBG dari SPPG Desa Tutup, Operasional Dihentikan 20 Hari
Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus mendukung keberlangsungan usaha para perajin lokal. Supriyanto berharap masyarakat semakin bangga mengenakan batik, khususnya produk buatan UMKM Purworejo.
"Harapan kami, melalui Hari Batik Nasional ini, masyarakat kembali menguri-uri budaya asli Indonesia, yaitu batik. Semakin sering masyarakat menggunakan batik, semakin besar pula peluang para pelaku UMKM, khususnya perajin batik, untuk berkembang dan meningkatkan omzet," tuturnya.
Ia menambahkan, pendampingan pemerintah terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kualitas produksi, kreativitas desain, serta membuka peluang kemitraan pemasaran. Namun, pelaku UMKM juga perlu memahami kebutuhan konsumen agar produk yang dihasilkan dapat bersaing.
"Para pelaku UMKM harus terus meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya untuk berkreasi. Bagaimanapun, pelaku UMKM juga harus melihat potensi pasar sehingga produk yang dibuat dapat memenuhi kebutuhan konsumen," katanya.
BACA JUGA: GJL Geruduk Kanwil BPN Jateng, Bawa Sesaji dan Soroti Dugaan Pungli
Supriyanto juga mengajak masyarakat untuk memilih produk asli Purworejo sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha lokal. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan batik produksi daerah sendiri, identitas Purworejo diharapkan semakin dikenal luas.
"Kami berharap para pelaku UMKM terus meningkatkan kreativitas dan kemampuan membaca potensi pasar. Masyarakat juga diharapkan mencintai dan menggunakan produk asli Purworejo, sehingga bersama-sama kita bisa memperkenalkan identitas daerah melalui batik," harapnya.
Semangat tersebut selaras dengan slogan "Tresno Purworejo, Larisi Purworejo". Batik diharapkan tidak hanya menjadi warisan budaya yang dilestarikan, tetapi juga mampu tumbuh sebagai produk ekonomi kreatif yang memberikan manfaat bagi perajin dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
