Dengan ukuran sekitar 250 gram per ekor, satu kilogram ikan dapat berisi sekitar empat ekor.
“Kalau untuk konsumsi itu kan 250 gram, berarti satu kilo isinya empat. Itu sangat sesuai untuk satu kali konsumsi untuk lauk satu orang,” ujarnya.
Selain aspek teknis, pemerintah melihat budidaya nila salin sebagai peluang mengembalikan produktivitas lahan yang selama bertahun-tahun tidak lagi menghasilkan.
“Kalau untuk hasil, insyaAllah tidak kalah dengan padi,” kata Budhi.
Belajar dari Sidoarjo dan Pemalang
Dislutkan Batang tidak hanya mengandalkan hasil demplot yang dilakukan di daerah sendiri.
Pemerintah juga mempelajari praktik budidaya nila salin dari daerah lain yang lebih dahulu mengembangkan komoditas tersebut.
Sidoarjo menjadi salah satu daerah yang dijadikan rujukan.
Menurut Budhi, budidaya nila salin di daerah tersebut telah mencapai sekitar 50 hektare. Pengembangannya dilakukan dengan sistem tumpangsari bersama ikan bandeng.
“Daerah Sidoarjo itu tambaknya memang tidak terdampak rob, itu bagus, berhasil. Sekitar 50 hektare di sana. Memang tumpangsari dengan bandeng di Sidoarjo itu lumayan bagus,” ujarnya.
Sementara untuk menghadapi risiko ikan keluar ketika rob, Dislutkan Batang mempelajari sistem pengamanan tambak yang telah diterapkan di Kabupaten Pemalang.
Salah satu caranya dengan memasang jaring di sekeliling kolam.
Jaring tersebut diharapkan dapat menahan ikan agar tidak keluar ketika terjadi limpasan air akibat rob.
“Kita modelnya nanti kita lakukan jaring keliling, Pak, di sekitar kolam. Biar nanti kalau ada bencana rob, ikannya tidak hilang,” kata Budhi.
Menurut dia, sistem serupa telah diterapkan di lahan terdampak rob di Pemalang.
“Kita sudah pernah studi ke Pemalang. Pemalang sudah dijalankan itu, lahan-lahan yang terkena dampak rob dikasih jaring-jaring, hasilnya bagus juga,” ujarnya.
Nila Salin Bukan Satu-satunya Pilihan
Meski nila salin menjadi pilihan tahap awal, Dislutkan Batang masih membuka peluang pengembangan komoditas lain.