Faiz mengatakan, Bukit Srawung diharapkan menjadi ruang komunal yang merepresentasikan karakter masyarakat Batang.
“Bukit Srawung diharapkan tidak sekadar menjadi tempat untuk menikmati pemandangan, tetapi juga menjadi ruang komunal yang merepresentasikan karakter masyarakat Batang. Di tengah pesatnya perkembangan industri dan arus modernisasi, kawasan tersebut dirancang sebagai salah satu ruang untuk menjaga budi pekerti dan kearifan lokal,” terangnya.
Pesan itu juga tercermin dari nama “Srawung” yang berkaitan dengan semangat membangun hubungan sosial, persaudaraan, dan kebersamaan antarwarga.
“Perputaran zaman dan kemajuan industri tidak akan bisa menggerus budi pekerti. Semua menjadi satu, menggapai kehidupan yang lebih mulia, gotong royong, dan jauh dari perselisihan,” ujarnya.
Faiz berharap Bukit Srawung dapat menjadi wadah masyarakat untuk berinteraksi tanpa meninggalkan nilai yang telah tumbuh di Batang.
“Kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi wadah masyarakat untuk berinteraksi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah tumbuh di tanah leluhur Batang,” katanya.
Semangat tersebut, lanjut dia, mencakup gotong royong dan keharmonisan masyarakat, mulai dari kawasan Wringin Kurung hingga wilayah pesisir Kabupaten Batang.
“Semoga Bukit Srawung ini menjadi sumber kebahagiaan, yang rendah menjadi mulia, yang tidak tahu menjadi paham,” ujarnya.
Peresmian Bukit Srawung kemudian ditutup dengan doa bersama. Keberadaan ruang publik tersebut diharapkan melengkapi perkembangan KITB yang tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi dan industri.
Faiz mengatakan, ruang publik tetap diperlukan agar perkembangan kawasan industri berjalan beriringan dengan interaksi sosial dan pelestarian budaya lokal.
“Keberadaan ruang publik tersebut diharapkan menjadi bagian dari perkembangan KITB yang tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi dan industri, tetapi juga tetap memberikan ruang bagi interaksi sosial serta pelestarian budaya lokal,” pungkasnya.