Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengatakan panen Biosalin menjadi jawaban atas keresahan petani yang telah berlangsung selama sekitar enam hingga tujuh tahun.
Para petani, kata dia, menghadapi rob dan perubahan kondisi tanah yang membuat lahan semakin sulit dimanfaatkan.
"Ini menjadi sebuah jawaban atas harapan dari para petani, dari tujuh tahun, enam tahun yang lalu ketika mereka semuanya cemas terhadap kondisi rob, kondisi tanah mereka," kata Faiz.
Saat ini, pengembangan Biosalin dilakukan pada lahan sekitar 25 hektare.
Faiz berharap luasan tersebut tidak berhenti sebagai lahan percontohan. Pemkab Batang menargetkan pengembangan dapat diperluas hingga 100 bahkan 200 hektare.
"Sekarang 25 hektare, kita berharap ke depan bisa terus meningkat 100-200 hektare," ujarnya.
Ia berharap perluasan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, BRIN, Kementerian Pertanian, serta pemangku kepentingan lainnya. Bagi Batang, pengembangan Biosalin memiliki arti lebih dari sekadar menambah produksi padi.
Lahan pesisir yang sebelumnya menghadapi tekanan air laut dicoba dikembalikan menjadi bagian dari ruang produksi pangan. Upaya tersebut sekaligus menjadi salah satu cara mempertahankan ketahanan pangan ketika ketersediaan lahan produktif menghadapi tekanan.
Tantangan Tata Ruang
Persoalan lahan pangan di Batang tidak berdiri sendiri. Kabupaten ini juga berkembang sebagai kawasan industri, sehingga kebutuhan ruang untuk berbagai sektor semakin besar.
Faiz menyebut kondisi tersebut sebagai pekerjaan rumah pemerintah daerah.
"Memang kompetisi tata ruang ini adalah kompetisi yang harus kita terapkan secara adil dan baik dengan perencanaan yang baik. Kita sedang menyiapkan itu sehingga masing-masing tidak terganggu," katanya.
Menurut Faiz, pertumbuhan industri tidak seharusnya membuat sektor pertanian dan perikanan kehilangan ruang. Ia ingin pembangunan Batang dapat mempertemukan pertumbuhan industri dengan keberlanjutan sektor pertanian dan perikanan.
"Kita pengin menuju seperti Zhejiang di Hubei, di mana itu sebuah kota di mana pendidikannya, pertaniannya, dan industrinya, mereka punya empat kawasan industri, tetapi pertaniannya juga bagus, perikanannya bagus, industrinya tumbuh dengan baik," ujarnya.
Dalam konteks itu, Biosalin menjadi salah satu upaya mengembalikan fungsi lahan yang sebelumnya menghadapi persoalan salinitas. Namun, Hanif mengingatkan agar pengembangan Biosalin tidak berhenti pada seremoni panen.
"Merupakan suatu hal yang inovasi yang harus bisa direplikasi dengan serius, tidak berhenti hanya di seremonial ini saja," katanya.
Menurut Hanif, padi Biosalin dapat menjadi bagian dari penanganan kawasan yang terdegradasi akibat abrasi air laut. Selain Biosalin, ia menyebut nila salin dan rumput laut sebagai potensi yang dapat dikembangkan di kawasan pesisir.